Melampaui Target RPJMN 2029, Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia 2026 Naik Signifikan

Heru Pratomo • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:58 WIB

 

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026

 

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) resmi merilis hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026. Hasil survei mencatat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan menyentuh angka 93,61 persen.

Capaian ini mengalami peningkatan tajam dibandingkan SNLIK 2025 yang mencatatkan indeks literasi keuangan sebesar 66,64 persen dan inklusi keuangan sebesar 92,74 persen. Capaian tahun ini sekaligus berhasil melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk tahun 2029, yakni literasi sebesar 69,35 persen dan inklusi sebesar 93 persen.

Pengumuman hasil survei disampaikan secara bersama oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, dan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor BPS, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Suara Muhammadiyah Buka Pusat Oleh-Oleh Jogja 1915, Sajikan Bakpia Cahya hingga Rendang Datuk

 SNLIK 2026 menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya digelar melalui kolaborasi tiga lembaga sekaligus: OJK, LPS, dan BPS. Survei ini melibatkan 75.000 responden berusia 15–79 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, menggunakan metode stratified multistage cluster sampling serta wawancara tatap muka berbasis Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI).

Profil Literasi dan Inklusi Keuangan

Berdasarkan demografi dan karakteristik responden, survei menunjukkan sejumlah dinamika penting. Indeks literasi dan inklusi keuangan di wilayah perkotaan yang sebesar 72,54 persen dan 95,47 persen masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang mencatat 64,42 persen dan 90,39 persen.

Dari sisi gender, tingkat literasi dan inklusi keuangan antara laki-laki dan perempuan relatif setara, di mana literasi laki-laki berada di angka 69,54 persen dan perempuan 69,61 persen, sedangkan inklusi keuangan laki-laki sebesar 93,49 persen dan perempuan 93,73 persen.

Baca Juga: Diduga Tak Sabar Menunggu Kereta, Pemuda Rusak Palang Perlintasan Gamping

Berdasarkan kelompok usia, kelompok produktif berusia 26–35 tahun mencatatkan indeks tertinggi dengan literasi 78,70 persen dan inklusi 96,27 persen, sedangkan kelompok usia 15–17 tahun mencatatkan indeks terendah yaitu literasi 56,04 persen dan inklusi 89,13 persen.

 Dari tingkat pendidikan, indeks berbanding lurus dengan jenjang sekolah, di mana lulusan perguruan tinggi mencatat literasi 93,46 persen dan inklusi 99,49 persen, sementara masyarakat tidak atau belum tamat SD mencatat literasi 45,23 persen dan inklusi 85,80 persen.

Untuk kategori pekerjaan, kelompok pensiunan, purnawirawan, dan pegawai profesional memiliki indeks literasi tertinggi di atas 85 persen, sedangkan kelompok petani, nelayan, tidak bekerja, serta pelajar berada di papan bawah.

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Masih Miliki PR Atasi Stunting di Nglipar yang Masih Capai 20 Persen

Secara geografis, DKI Jakarta mencatatkan indeks literasi 84,01 persen dan inklusi 99,74 persen tertinggi nasional, disusul DI Yogyakarta di posisi kedua inklusi tertinggi sebesar 98,74 persen. Adapun untuk jenis keuangan, indeks literasi keuangan konvensional mencapai 69,57 persen dengan inklusi 93,53 persen, sementara indeks literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,07 persen dengan inklusi 13,24 persen.

Tantangan Penjaminan dan Strategi Terarah

Survei ini juga memotret pemahaman publik terkait penjaminan simpanan. Sebanyak 62,51 persen pemilik rekening mengetahui simpanannya dijamin, tetapi baru 46,31 persen yang mengenal LPS sebagai lembaga penjamin.

Sementara itu, pemahaman publik terhadap penjaminan polis asuransi non-program jaminan sosial masih sangat rendah di angka 12,47 persen. Selain itu, terdapat 30 persen masyarakat yang teridentifikasi belum mengetahui penjaminan simpanan maupun lembaga LPS, sehingga kelompok ini menjadi prioritas utama edukasi.

Baca Juga: Rahasia Usus Sehat dari Segelas Olahan Fermentasi Nanas

Sebagai tumpuan amanah UU Nomor 4 Tahun 2026, program literasi keuangan ke depan akan difokuskan pada kelompok rentan seperti masyarakat perdesaan, berpendidikan rendah, usia muda atau lanjut, serta sektor pertanian.

LPS menyiapkan langkah strategis melalui pendekatan tepat sasaran bagi masyarakat berpendidikan maksimal SMA, penyampaian pesan yang secara eksplisit menghubungkan narasi simpanan dijamin dengan LPS, serta penempatan kanal edukasi di titik transaksi perbankan dan pasar. Selain itu, strategi edukasi juga dibedakan berdasarkan tingkat pemahaman masyarakat serta mulai menyiapkan literasi Program Penjaminan Polis sejak dini.

Editor : Heru Pratomo
Survei nasional literasi dan inklusi keuangan lps SNLIK anggito abimanyu OJK