Sebelum tiba di Candi Borobudur, mereka dijamu Bupati Magelang Zaenal Arifin di Rumah Dinas Bupati Magelang. Kehadirannya disambut meriah dengan persembahan Tari Soreng. Lantas, beramah-tamah dengan bupati dan Forkompimda.
Bupati Zaenal Arifin mengaku terhormat bisa menjamu para biksu Thudong. Apalagi bertepatan dengan momentum Hari Lahir Pancasila. Hal itu menjadi bentuk kebersamaan dan keberagaman warga Magelang. "Ini sangat luar biasa. Indahnya kebersamaan ini semoga terus terjalin dan mewarnai Indonesia," ujarnya kemarin (1/6).
Dengan Pancasila itulah, bangsa Indonesia dapat merajut ke Indonesia-an yang berbeda-beda. "Semoga semuanya bisa senantiasa diberikan kekuatan, sehingga bisa menyelesaikan perjalanan ibadah ini dengan baik," tambah Zaenal.
Menurutnya, kehadiran biksu Thudong memberikan semangat untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih baik lagi. Hal itu selaras dengan energi positif selama perjalanan yang telah mereka lakukan. Yang mana dapat membawa semangat toleransi dan kebersamaan.
Usai beramah-tamah di Rumdin Bupati Magelang, mereka melanjutkan perjalanan menuju Vihara Mendut dan diterima Bante Sri Pannyavaro Mahathera. Para biksu mendengarkan arahan dan pesan dari Bante Sri Pannyavaro. Mereka juga menceritakan pengalamannya berjalan dari Thailand menuju Indonesia.
Bante Sri Pannyavaro menjelaskan, Thudong merupakan lafal pengucapan masyarakat Thailand dari bahasa Pali, Dhutanga. Dhuta artinya sulit dan anga berarti bagian. Berarti, mereka melakukan praktik untuk bagian yang sulit dilakukan orang lain.
Dengan kata lain, perjalanan spiritual atau dharmayatra yang dilakukan para biksu ini tidak sama dengan wisatawan umumnya. Dia juga berharap, perjalanan para biksu ke Candi Borobudur dapat menambah kekuatan dari dalam untuk menjalani kehidupan dengan baik. Sehingga mencapai kemajuan spiritual yang lebih tinggi.
Selain itu, menjadi sebuah kelaziman di dunia para biksu pemula mencari biksu senior untuk memberi penghormatan. Bahkan saat mereka hendak bersujud kepadanya, Sri Pannyavaro bertanya terlebih dahulu. "Saya tanya, 'berapa lama kalian menjadi biksu?' Kalau ada yang lebih tua dari saya, ya saya harus bersujud kepada mereka. Ternyata yang paling tua dari rombongan itu baru 31 tahun menjadi biksu," lontarnya.
Para biksu kemudian menuju Candi Mendut dan Candi Pawon untuk melakukan puja. Barulah sekitar pukul 15.25, mereka memasuki pintu gerbang kalpataru dan disambut manajemen PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dengan memberikan bunga sedap malam.
Direktur Umum PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Febrina Intan menuturkan, Candi Borobudur ini menjadi tujuan terakhir para biksu Thudong. "Kami menyambut mereka untuk mengarahkan para biksu melakukan peribadatan sesuai yang dijalankan umat Buddha," terangnya.
Dia mengatakan, memang tidak ada penyambutan secara seremonial. Hanya dengan memberikan bunga sedap malam kepada setiap biksu yang datang untuk melakukan peribadatan di Candi Borobudur.
Para biksu pun semakin bersemangat ketika tujuan akhirnya hendak mereka capai. Mereka lantas naik ke struktur candi tanpa mengenakan alas kaki. Kemudian, para biksu melakukan sujud dan pembacaan Dhamma Sakka atau ajaran perdamaian Sang Buddha. Terakhir melakukan meditasi dan pradaksina di struktur candi.
Sementara itu, biksu dari Cirebon Bhante Kanthadammo mengutarakan, saat berada di atas struktur candi, semua biksu dan umat Buddha khusyuk memanjatkan doa dan meditasi. Sebagai biksu Dhutanga yang telah menyelesaikan perjalanannya hingga akhir, mereka mengaku terharu.
Dia menyebut, jumlah biksu yang mengikuti Thudong ini semula lebih dari 40-an. Namun, karena banyak yang gugur sehingga menyisakan 35 orang, terdiri atas 33 biksu dan dua umat Buddha. "Kami membawa misi toleransi dan perdamaian," ujarnya. (aya/laz)
Editor : Administrator