NAILA NIHAYAH, Mungkid
Lazimnya, transportasi dan modal yang tidak sedikit menjadi bekal untuk tur ke daerah lain. Namun, memiliki motor tua juga bukan berarti tak bisa ke mana-mana. Justru dengan motor tua itulah, ada berbagai cerita yang bisa dirangkai.
Hanya saja, untuk memutuskan tur ke daerah lain, atau ke negara tetangga sekalipun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan secara matang. Mulai dari dokumen berkendara hingga budget yang harus dikeluarkan. Hal itulah yang dialami oleh Priyo Handoko, warga Sumberarum, Tempuran, Magelang.
Baca Juga: Jeglongan Sewu, DPUPR Anggarkan Rp 3,5 Miliar untuk Perbaiki Jalan Rusak di Sucen Magelang
Priyo justu lebih senang mengendarai motor tua kesayangannya, Honda CB 125, ketimbang transportasi lainnya. Terlebih hobinya adalah melakukan solo riding. Bapak dua anak ini sudah menaklukkan medan di Indonesia, kecuali Papua. Perjalanan etape 1 itu dimulai dari Magelang pada 9 Agustus 2023 lalu. Dengan membutuhkan waktu perjalanan sekitar satu bulan. Ia telah menempuh perjalanan seorang diri kurang lebih 5.000 kilometer. Dari Indonesia ke Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Myanmar.
Tur panjang dengan motor keluaran 1972 itu muncul saat Priyo tengah berada di Nepal pada Oktober 2022 lalu. Di sana, ia tracking dengan sepeda motor. "Kok asyik naik motor. Akhirnya pulang dulu, mempersiapkan motor," ujar Priyo saat ditemui di Bandongan, beberapa waktu lalu.
Priyo memang memiliki beberapa motor. Tapi, ia berpikir untuk melakukan tur dengan mengendarai motor tua. Meski risikonya lebih tinggi. Selain itu, persiapannya harus jauh lebih matang untuk meminimalisir kerusakan. Termasuk mengurus dokumen kelengkapan.
Selain paspor, Priyo harus mengantongi SIM internasional dan Carnet de Passages en Douane (CPD) atau surat izin melintas kendaraan bermotor antarnegara. Tak hanya itu, ia juga membawa peralatan suku cadang komplet. Agar ketika terjadi sesuatu di perjalanan, ia bisa mengatasinya. Bahkan, bagian belakang motor, ia desain sedemikian rupa agar bisa membawa barang dan perlengkapan lainnya.
Baca Juga: Masuki Pancaroba, Magelang Berpotensi Hujan Ringan
Tur ini murni kegiatan pribadinya. sebenarnya ada misi khusus. Dengan mengusung tagline 'anything can go anywhere', ia ingin membuktikan bahwa dengan motor tua sekalipun, Priyo bisa keliling kota. Lebih-lebih bisa menapak ke beberapa negara di Asia. Asal dokumennya lengkap.
"Kalau dulu, sempat ada kayak isu-isu CC motor harus minimal sekian. Terus tahun (keluaran motor) harus sekian, tapi ternyata terbantahkan semua. Jadi, ketika kita bisa ngurus dokumen lengkap itu enak semua dan tidak ada masalah," lontarnya.
Dia menyebut, tur itu diawali dari Magelang pada 9 Agustus 2020. Tidak langsung ke Malaysia, Priyo justru berkendara ke Kalimantan via Semarang. "Kemarin saya muter dulu dari Jawa, Kalimantan, masuk ke Serawak (Malaysia), Brunei Darussalam, dan Sabah (Malaysia)," imbuhnya.
Barulah dari Sabah, ia menyeberang ke Kuala Lumpur. Dari situ, ia ke Bangkok, Thailand dan melanjutkan perjalanan menuju Myanmar. Hanya saja, saat itu, cargo pengiriman dari Thailand menuju Myanmar, kondisinya high cost. Mau tidak mau, ia harus kembali lagi ke Malaysia.
Memang, ada perbedaan yang signifikan dengan Indonesia. Yang mana ketika tur, orang dan kendaraannya bisa diangkut secara bersamaan. Untuk rencana perjalanan etape 2, ia akan mengirimkan motor CB125 itu dari Malaysia ke India. Setelah ia mendapat konfirmasi dari pihak cargo, Priyo bisa menitipkan motornya dan melanjutkan tur kembali.
Baca Juga: Masuki Pancaroba, Suhu Rata-Rata Magelang Capai 33 Derajat Celcius
Karena menunggu antrean cargo, mau tidak mau, Priyo harus pulang ke Tanah Air terlebih dahulu pada Sabtu (18/9). Ia memutuskan pulang setelah menempuh perjalanan sekitar 5.000 kilometer. Selama tur, ada berbagai hal yang dilalui. Seperti membeli bahan bakar minyak (BBM).
Dia menceritakan, ada kesamaan antara Indonesia dan Malaysia. Yang mana ada BBM subsidi dan non-subsidi. Karena Priyo bukan warga negara Malaysia, ia harus membeli BBM non-subsidi. Namun, harganya cenderung lebih murah. Yakni Rp 6 ribu perliter dengan research octane number (RON) 95 dan 97.
Berbeda ketika di Thailand, harga BBM sekitar Rp 16 ribu per liter dengan RON 92 dan 95. Selama tur, entah sudah berapa uang yang dihabiskan untuk membeli BBM. Mengingat tangki BBM miliknya terlampau kecil. Hanya bisa menampung sekitar enam liter BBM dengan jarak tempuh sekotar 210 kilometer.
Tur panjang selama lebih dari satu bulan itu, Priyo harus menyiapkan uang sekitar Rp 50 juta. Uang itu pun tidak sepenuhnya habis. Tergantung pola hidupnya di negara orang. Seperti memilih makanan hingga tempat tinggal yang terjangkau. Dia pun sudah mempersiapkan diri dengan empat mata uang sekaligus.
Baca Juga: Gotong Royong Bersihkan Trotoar Usai Magelang Ethno Carnival dan Jut Bio
Dia mengaku, tur-nya kali ini cukup menantang. Namun, ada banyak pengalaman yang bisa didapatkan. Misalnya saat ia tengah tur di Malaysia. "Ketika saya di highway, setiap ada mobil, mereka selalu di samping. Ngawal saya. Dia buka kaca jendela terus bilang, 'mas, Indonesia ya? Hati-hati'. Jadi, banyak yang nyapa dan ternyata dia TKI," kenangnya.
Bahkan, lanjut dia, ia kerap mendapat tawaran untuk sekadar minum air atau kopi di rest area. Priyo pun pernah diajak mampir ke kontrakan TKI yang ada di Malaysia. Entah untuk istirahat atau bertukar cerita. Dia merasa, ketika ada riders yang menggunakan motor gede, warga setempat segan untuk menyapa. Berbeda ketika menggunakan motor tua seperti dirinya. Orang-orang tidak akan segan menyapanya.
Dia memulai tur dari Malaysia bukan tanpa alasan. Sebab, di sana, pintu masuknya paling mudah dibanding negara lainnya. Tapi, petugas tetap akan memeriksa kelengkapan dokumen dan motornya. Selama tur, ada beberapa lanskap pemandangan yang membuatnya terkesan dan mendapat hal baru.
Kendati begitu, ia tetap harus bekerja meski di manapun. Beruntung, pekerjaannya menjadi kontraktor, tidak menyulitkan Priyo. Tapi, dia memang harus membuat perencanaan lebih matang. "Kemarin, perjalanan saya dimulai pukul 09.00. Terus nanti pukul 16.00, istirahat, ngecek pekerjaan lagi," terangnya.
Baca Juga: Jelang Liga 3, PPSM Magelang Incar Pemain Liga 1 dan Liga 2
Selain itu, dia menambahkan, untuk memulai tur panjang, yang harus dipersiapkan adalah tujuan. Menurutnya, tujuan tur menentukan persiapan seseorang. Termasuk perlengkapan, suku cadang, hingga dokumen. Beruntung, selama tur di empat negara itu, ia tak menemui kendala berarti.
Bahkan, ia belum pernah menambah angin pada roda motornya. Justru malah menguranginya. Juga mengganti oli secara berkala, per 1.000 kilometer. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan istri dan kedua anaknya. Termasuk mencukupi kebutuhannya selama ditinggal tur.
Untuk mengantisipasi terjadinya suatu hal, Priyo tidak mengunggah foto dengan metode on the spot. Ia baru mengunggah foto itu, setelah Priyo berpindah lokasi. "Misalkan sekarang fotonya, nanti sore atau besok pagi baru saya posting. Itu menjadi trik karena solo riding dan risikonya lebih besar," akunya.
Tetapi, dia akan memberikan tanggapan melalui pesan pribadi apabila ada orang Indonesia yang hendak bertemu dengannya. Hal itu untuk meminimalisir adanya oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan dirinya. Rencananya, tur panjang itu akan berakhir di Makkah, melewati sekitar 11 negara. "Jadi, target ke sana (Makkah), Insyaallah," sambungnya. (pra)