RADAR PURWOREJO - Musim penghujan, masyarakat Kabupaten Purworejo diminta untuk mewaspadai penyakit demam berdarah (DB).
Sub Koordinator Pelayanan Kesehatan dan Pengendalian Penyakit sekaligus Analis Penyakit Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purworejo Widiastuti mengatakan, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyakit DB. Di antaranya, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menyingkirkan tempat perindukan nyamuk, berkoordinasi dengan desa atau kelurahan agar warganya mewaspadai DB, dan upaya fogging.
Namun, fogging tidak begitu efektif untuk pencegahan. Karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan jentik-jentik nyamuk tidak mati. "Paling efektif PSN. Biasanya permintaan fogging masuk, kalau kasus sudah banyak," sebutnya Senin (4/12).
Upaya lain,jumati (juru pemantau jentik). Yakni, satu rumah ada satu orang yang bertanggung jawab dan memastikan tidak ada satupun genangan untuk berkembang biak nyamuk.
Menurutnya, jika hal tersebut berjalan akan lebih efektif karena setiap rumah di suatu lingkungan semua jadi bersih. Sehingga pergeralan nyamuk dapat dibatasi. "Saat ini sedang dalam proses penandatanganan surat edaran oleh kepala dinas. Selanjutnya, akan ditujukan ke setiap puskesmas," sambung dia.
Widi menjelaskan, gejala penyakit demam berdarah antara lain demam, mual, muntah, pada anak biasanya akan muncul bintik-bintik merah di permukaan kulit. Dia meminta agar masyarakat segera ke fasilitas kesehatan jika demam berturut-turut selama tiga hari. "Untuk memastikan penyakit DB atau tidak agar segera dapat penanganan," pesannya.
Dikatakan, DB terdapat dua jenis yaitu Demam berdarah dengue (DBD) dan demam dengue (DD). Kedua penyakit tersebut memiliki penyebab, penularan, dan diagnosis yang sama. Namun level keparahannya, DD lebih ringan. "DD harus tetap diwaspadai karena berpotensi DBD," tegasnya.
Sepanjang 2023 ini, ada 22 kasus DBD di Kabupaten Purworejo dan DD sebanyak 429 kasus. Paling banyak di Kecamatan Grabag 82 kasus, Bayan 27, Purworejo 21, Kemiri 54, dan Butuh 56. "Biasanya ada di desa-desa yang penduduknya banyak," imbuh Widi. (han/pra)
Editor : Satria Pradika