Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tinggal Tunggu Izin Kemendikbudristek, Pemasangan Chattra Candi Borobudur Tetap Ditarget September

Naila Nihayah • Jumat, 9 Agustus 2024 | 16:00 WIB
DISKUSI: Kepala Vihara Mendut didampingi Dirjen Bimas Buddha, Kemenag RI saat menerima kunjungan tim dari Kemenko Polhukam, Kamis sore (8/8). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
DISKUSI: Kepala Vihara Mendut didampingi Dirjen Bimas Buddha, Kemenag RI saat menerima kunjungan tim dari Kemenko Polhukam, Kamis sore (8/8). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

RADAR PURWOREJO - Heritage Impact Assesment (HIA) atau penilaian dampak warisan soal rencana pemasangan kembali chattra Candi Borobudur, telah rampung. Saat ini, pemerintah fokus menyusun detail engineering design (DED) serta kajian teknisnya. Ada tiga alternatif yang bisa menjadi bahan pertimbangan pemasangan chattra.

Direktur Kebijakan Pembangunan Manusia, Kependudukan, dan Kebudayaan, BRIN Prof Anugerah Widiyanto mengutarakan, telah melakukan serangkaian kajian terkait pemasangan kembali chattra. "Kemarin, HIA-nya terhadap rencana dampak pemasangan chattra. Termasuk mitigasinya," terangnya, Kamis sore (8/8).

Hanya saja, kata dia, kajian tersebut masih teoretis atau sebatas simulasi penghitungan beban berat chattra dan lainnya. Saat ini, BRIN tengah mempersiapkan pemasangan chattra. Namun, BRIN masih menunggu izin dari Kemendikbudristek terkait pemasangannya.

Begitu mengantongi izin, kata dia, BRIN akan menyusun DED dan melakukan rekonstruksi chattra dari bawah. Tetapi, dia belum bisa memastikan kapan izin rekonstruksi tersebut turun. Setelah rampung, barulah dilakukan pemasangan di atas stupa induk Candi Borobudur.

Anugerah menyebut, selama kajian berlangsung, BRIN memunculkan tiga alternatif. Pertama, chattra model yang sesuai dengan hasil rekonstruksi Theodore van Erpstruktur. Artinya, chattra itu hanya memuat 40 persen batu asli dan bebatuan lainnya akan dihilangkan.

Kedua, chattra akan dipasang dengan konstruksi 80 persen bebatuan asli. Terakhir, pemasangan chattra akan dilakukan dengan memuat 100 persen batu baru. "Mereka (umat Buddha) ternyata merekomendasikan alternatif yang kedua dengan batu asli 80 persen," paparnya.

Selain itu, UNESCO juga ada beberapa alternatif pemasangan kembali chattra. "Kalau dari syarat jumlah (bebatuan) aslinya di atas 50 persen lebih, tidak apa-apa (dipasang). Nanti kami akan diskusi lagi. Karena ada yang pro dan kontra," imbuhnya.

Sementara itu, Asdep Koordinasi Memperteguh Kebhinekaan, Kemenko Polhukam Temmanengnga menyebut, ada kendala terkait rencana pemasangan chattra. Yakni soal studi teknis dan DED yang belum dilengkapi sebagai salah satu persyaratan izin untuk melakukan rekonstruksi pemasangan chattra.

Rencananya, chattra tersebut akan dipasang pada pertengahan September ini atau sebelum masa kepemimpinan Presiden Jokowi selesai. Dia tidak menampik, waktu yang tersedia memang cukup mepet. Namun, dia optimistis, chattra itu dapat segera dipasang kembali di stupa induk Candi Borobudur tepat waktu."Kami akan akselerasi bagaimana bisa memparalelkan studi teknis dan DED tersebut, termasuk rekonstruksinya," kata dia.

Kepala Sangha Theravada Indonesia Bante Sri Pannavaro Mahathera mendukung penuh pemasangan chattra tersebut. Dia menyebut, chattra itu semula memang sudah ada dan terpasang di stupa induk candi. Kemudian, diturunkan kembali.

Lantas, lanjut dia, tercetus ide untuk memasang kembali chattra pada 2014. Lalu, pada 2016, umat Buddha mulai menulis usulan tersebut kepada pengelola TWC. "Itu pertama kali dokumen tertulis permohonan nenaikkan chattra. Dasarnya, kami ingin mengembalikan chattra yang lama, bukan membuat yang baru," ucapnya.

Terlebih, BRIN sudah meneliti segala kemungkinan yang terjadi jika catra tersebut dipasang. Termasuk memberikan tiga alternatif rencana pemasangan chattra tersebut. Namun, umat Buddha rata-rata menyetujui alternatif kedua. (aya/pra)

Editor : Satria Pradika
#Heritage Impact Assesment #Candi Borobudur #BRIN