Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Pemilik Bakso di Kota Solo yang Diduga Menggunakan Bahan Baku Tidak Halal Berikan Klarifikasi

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 4 November 2025 | 04:52 WIB

 

 

DEMI KEAMANAN: Satpol PP menutup warung bakso di daerah Joyosuran, Pasar Kliwon yang diketahui menggunakan bahan non halal.
DEMI KEAMANAN: Satpol PP menutup warung bakso di daerah Joyosuran, Pasar Kliwon yang diketahui menggunakan bahan non halal.

SOLO -  Warung basko di Jalan Veteran, Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo mendadak menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan penggunaan bahan baku non halal.

Dugaan itu mencuat usai adanya sidak gabungan petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Solo beberapa waktu lalu.

Dari hasil sidak itu, petugas bahkan menempelkan stiker bertuliskan “non halal” di dinding warung yang sudah beroperasi puluhan tahun tersebut.

Foto dan video penempelan stiker pun viral di media sosial, menimbulkan keresahan warga dan pelanggan tetapnya.

Namun pemilik warung, Thirthania Laura Damayanthie dengan tegas membantah tuduhan bahwa bakso jualannya mengandung bahan non halal.

Dia menyebut peristiwa itu hanyalah kesalahpahaman yang terjadi saat ayahnya, pendiri warung, diwawancarai oleh petugas saat sidak berlangsung.

“Sebenarnya bakso kita itu halal. Tapi karena bapak saya waktu diwawancarai petugas bingung antara halal dan non halal, beliau menjawabnya salah. Jadi bukan karena memang bahan kita non halal. Semua bahan bakunya halal, tidak ada yang pakai babi atau sejenisnya,” terang Laura, seperti diberitakan Radar Solo Jawa Pos Group Senin (3/11/2025).

Laura menjelaskan, keluarganya merupakan muslim dan sejak awal menjalankan usaha dengan prinsip halal.

Daging yang digunakan untuk bakso berasal dari pemasok sapi lokal dengan surat jalan yang lengkap, sementara bahan pelengkap seperti bumbu dan saus juga dibeli dari toko yang sudah bersertifikasi halal.

Baca Juga: Salip 23 Pembalap, Pembalap Muda asal Sleman Muhammad Kiandra Ramadhipa Juara di Barcelona

“Kami ini keluarga muslim. Dari dulu bapak sudah menekankan, jangan main-main soal bahan makanan. Semua beli di supplier yang jelas dan halal. Jadi begitu muncul kabar non halal, jujur kita semua kaget,” ujarnya.

Dia mengaku masih menunggu hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh pihak dinas untuk memastikan kejelasan kandungan bahan baku baksonya.

Hasil itu dijadwalkan keluar pada Jumat mendatang. Laura berencana segera melakukan klarifikasi publik melalui akun resmi media sosial milik warungnya setelah hasil itu diterima.

Kalau hasil lab sudah keluar, kami akan sampaikan terbuka lewat Instagram. Biar masyarakat tahu kebenarannya,” lanjutnya.

Meski demikian, Laura menyebut adanya kejanggalan dalam proses pengujian tersebut.

Dia menuturkan, sejauh ini belum ada petugas yang datang langsung mengambil sampel produk dari warungnya.

“Kami heran juga, katanya sampelnya sudah ada di lab. Tapi setahu kami belum ada yang datang ambil dari sini. Jadi kami tidak tahu sampel itu dari mana,” ujarnya dengan nada bingung.

Pasca kabar dugaan non halal merebak, situasi di sekitar warung menjadi tidak kondusif.

Sejumlah warga dan pelanggan datang silih berganti, sebagian ingin memastikan kebenaran kabar, sebagian lain mempertanyakan kejelasan status kehalalan produk.

Kondisi itu membuat Laura dan para pegawainya merasa tidak nyaman.

“Sebenarnya tadi pagi petugas Satpol PP datang dan menyarankan agar warung tutup sementara mulai malam hari, setelah stok habis. Tapi karena siang suasananya sudah ramai dan agak panas, kami memutuskan untuk tutup lebih awal demi keamanan,” ujar Laura.

Ia menegaskan, penutupan itu bukan bentuk pengakuan bersalah, melainkan langkah sementara untuk menenangkan situasi dan menghindari kesalahpahaman lebih lanjut.

“Kami tutup bukan karena bersalah, tapi karena situasi sudah tidak kondusif. Takut ada hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Selama hampir tiga dekade, warung tersebut menjadi salah satu tujuan warga sekitar dan pelanggan lama dari berbagai daerah.

“Berdirinya sejak sekitar 1997-an. Jadi memang sudah lama banget, bapak saya yang buka sendiri,” tutur Laura.

Menariknya, sang ayah dari Laura ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan pemilik warung legendaris Bakso Remaja Kartopuran, yang dikenal luas masyarakat Solo.

“Bapak itu adik dari pemilik Bakso Remaja Kartopuran. Jadi bisa dibilang, dulu beliau buka cabang sendiri di Gading,” ungkapnya.

Kini, warung yang dikelola Laura mempekerjakan sembilan pegawai dan melayani ratusan pelanggan setiap harinya.

Selama ini, Bakso Remaja Gading dikenal dengan cita rasa daging sapi khas Solo yang kuat dan tekstur bakso yang kenyal.

Laura berharap, badai isu ini segera berlalu. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menilai sebelum hasil resmi laboratorium keluar.

“Kita tunggu hasil lab saja. Harapan kami masyarakat tetap tenang dan tidak langsung percaya pada kabar yang belum tentu benar. Kami ingin menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah puluhan tahun mendukung kami,” tandasnya. (atn/nik/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#tidak halal #bakso #Kota Solo