MUNGKID - Kesenian tradisional di Kecamatan Grabag menghadapi tantangan regenerasi di tengah derasnya arus budaya populer. Kondisi itu terlihat dari semakin sedikitnya kelompok seni yang aktif dan minimnya minat generasi muda untuk terlibat dalam latihan rutin seni tradisi seperti jathilan, topeng ireng, dan karawitan.
Situasi tersebut mendorong warga dan pegiat seni di Grabag menggelar festival kesenian tradisional tingkat kecamatan di Lapangan Desa Ngasinan Sabtu (29/11). Festival yang berlangsung dua hari ini menghadirkan 21 kelompok seni. Mulai dari sanggar desa hingga kelompok yang masih bertahan secara mandiri dengan dukungan donatur lokal.
Para pelaku seni menyebut tantangan terbesar bukan lagi sekadar pembiayaan. Melainkan kurangnya minat generasi muda yang kini lebih memilih seni modern seperti dance, musik digital, hingga konten kreatif berbasis media sosial. "Gempuran budaya global membuat seni tradisional kehilangan ruang jika tidak diperjuangkan," sebut Wakil Bupati Magelang Sahid.
Menurutnya, keberlangsungan seni tradisi kini bergantung pada kemampuan pelaku seni. Untuk beradaptasi tanpa mengubah identitas seni yang diwariskan.
Dia menyebut, Grabag dan desa-desa di sekitarnya selama ini dikenal sebagai pusat pertumbuhan kesenian rakyat. Kesenian tidak hanya hadir sebagai ekspresi budaya. Tetapi juga menjadi bagian penting dalam kalender wisata daerah. Terutama di kawasan penyangga Borobudur.
Sahid menambahkan, kesenian tradisional dapat menjadi daya tarik wisata berkelanjutan jika ekosistemnya berjalan seimbang. Antara pendampingan pelaku seni, ruang tampil, pasar kreatif, dan dukungan lintas generasi. "Kesenian bukan hanya aset budaya, tetapi fondasi identitas dan daya tarik wisata. Jika berhenti tampil, ia akan hilang dalam ingatan," pesan Sahid.
Berbeda dengan festival berbasis hiburan massal, festival ini dirancang sebagai ruang temu antar seniman dari berbagai desa di Grabag. Para pengunjung dapat menyaksikan perbedaan karakter seni antarwilayah. Mulai dari pola tabuhan gamelan, gerak tubuh penari, hingga ragam kostum dan simbol-simbol ritual.
Anggota DPRD Jawa Tengah Sukardiyono menilai, agenda ini harus mendapat kesinambungan. "Jika hanya tampil ketika ada event pemerintah, maka seni tradisi akan berhenti di panggung seremonial," katanya.
Selain panggung pertunjukan, festival ini juga membuka sentra UMKM lokal. Seperti kuliner desa, kriya, dan produk ekonomi kreatif. Sehingga festival ini memberi ruang bagi pemasaran lokal yang jarang didapat dalam kegiatan skala desa. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova