Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ngupit Heritage Cycling 2025: Bersepeda untuk Menjaga Air dan Merawat Sejarah Desa Tertua!

Magang Radar Purworejo • Senin, 1 Desember 2025 | 22:40 WIB
Ngupit Heritage Cycling 2025
Ngupit Heritage Cycling 2025

RADAR PURWOREJO - Ngupit Heritage Cycling 2025 yang diselenggarakan pada Minggu (30/11) di Desa Kahuman, Ngawen, Klaten, sukses menjadi ajang solidaritas yang hangat.

Acara sepeda ini mengumpulkan 50 peserta dari berbagai wilayah, mulai dari Klaten hingga Bantul, yang berkumpul sejak pagi di Joglo Kahuman, tempat penyimpanan replika Prasasti Upit yang menjadi bukti usia Ngupit yang telah melampaui 11 abad.

Dipandu oleh tiga pemandu lokal—Rohani, Basri, dan Salman Hamid—rombongan bersepeda menempuh rute sepanjang 7 kilometer.

Rute ini dirancang untuk mengajak peserta menyusuri jejak sejarah, budaya, dan ekologi Desa Kahuman secara langsung, seperti halnya melakukan perjalanan lintas-zaman.

Kegiatan ini secara eksplisit berorientasi pada edukasi kolektif, bukan sekadar paket wisata biasa.

Peserta diajak menggali situs-situs bersejarah tersembunyi, mulai dari peninggalan Mataram Kuno (seperti Padalan dan lumpang batu), jejak awal Islam di Masjid Sorowaden, hingga sisa-sisa era kolonial dan alur Perang Jawa.

Perjalanan bersepeda ini ditutup di Sumber Pengilon, mata air utama yang merupakan sumber kehidupan masyarakat desa.

Seorang peserta dari Karanganom, Puput, menyatakan bahwa kegiatan ini mengubah persepsinya tentang warisan sejarah (heritage).

Ia sebelumnya mengira warisan hanya berbentuk bangunan fisik, namun ternyata mencakup ingatan kolektif, lanskap, dan bahkan cara warga desa menjaga sumber daya air.

“Saya kira heritage itu dulu hanya bangunan. Ternyata ia menjelma jadi ingatan, lanskap, bahkan cara warga menjaga air,” ujar puput”.

Panitia juga berkomitmen penuh terhadap prinsip nol sampah (zero waste). Semua peserta diwajibkan membawa botol minum sendiri dan titik istirahat diatur sedemikian rupa agar tidak meninggalkan sampah plastik sekali pakai.

Prinsip ini diangkat untuk mendukung upaya desa dalam menjaga daya dukung lingkungan dan mengatasi tantangan degradasi sumber air di tengah isu perubahan iklim.

Menurut Rohani, pemandu lokal, rute ini dirancang untuk membuktikan bahwa desa menyimpan pengetahuan ekologis dan historis yang kaya dan tidak didapatkan dari pendidikan formal. Ia menekankan pentingnya perawatan situs-situs ini.

“Setiap batu dan jalur yang dilewati punya kisahnya. Kalau desa tidak merawatnya, identitas kita ikut hilang,” ungkap Rohani sang pemandu lokal.

Perjalanan bersepeda berakhir menjelang tengah hari (pukul 12.30) di kawasan Sumber Pengilon.

Di lokasi ini, peserta berdiskusi spontan untuk memahami keterkaitan antara mata air, ritual adat Merti Ngupit, dan siklus sosial.

Diskusi yang dilaksanakan ini juga sekaligus membuktikan bahwa kegiatan ini bukan hanya jelajah, tetapi perjumpaan lintas komunitas yang memperkuat ikatan antarwarga.

Kesimpulannya, Ngupit Heritage Cycling 2025 membuktikan bahwa inisiatif pemuda desa mampu menciptakan ruang belajar komunitas yang efektif.

Melalui kegiatan sederhana dengan rute yang pendek, acara ini berhasil memberikan dampak jangka panjang: menghidupkan kembali ingatan sejarah, membangun jaringan pertemanan, serta menguatkan kesadaran bersama untuk menjaga air dan lingkungan hidup desa.

Penulis: Cut Nazwa Khiranjani

Editor : Bahana.
#Jawa Tengah #Ngupit #klaten