Kasus ini menyita perhatian setelah munculnya spekulasi bahwa adanya kekerasan fisik yang dialami korban sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Dilansir Radar Solo, pengelola Pondok Pesantren Santri Manjung, Wonogiri, akhirnya angkat bicara terkait meninggalnya salah satu santrinya yang berinisial MMA yang berusia 12 tahun.
Ia diduga menjadi korban pemukulan oleh sesama santri.
Pemilik ponpes, Eko Julianto, menyatakan dirinya terkejut atas peristiwa tragis yang menimpa salah satu santrinya tersebut dan ia menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kasus kepada aparat kepolisian.
Eko menegaskan bahwa pihak ponpes memilih bersikap kooperatif dan tidak ingin menghambat proses hukum yang tengah berjalan di pihak kepolisian.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya menyerahkan seluruh proses kepada Polres Wonogiri, ia mengatakan situasi saat ini masih kalut dan akan menyerahkan ke pihak berwajib untuk menangani kasus ini.
Eko yang diketahui merupakan anggota di Polres Wonogiri dengan pangkat Bripka, menuturkan bahwa dirinya sempat bertemu langsung dengan korban beberapa hari sebelum kejadian berlangsung.
Tepatnya pada Sabtu (13/12), ia melihat kondisi korban memang sedang kurang sehat.
Saat bertemu, Eko mengaku sempat menanyakan keadaan MMA.
Korban pun menjawab bahwa dirinya telah meminum obat.
Menurut Eko, tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat secara kasat mata saat pertemuan tersebut.
Peristiwa meninggalnya santri MMA kini menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Aparat kepolisian masih mendalami kronologi kejadian serta dugaan adanya perundungan dan penganiayaan di lingkungan pondok pesantren tersebut untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Eko menegaskan bahwa pada Sabtu tersebut ia tidak mengetahui adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh MMA.
Menurutnya, saat itu kegiatan sedang berlangsung seperti biasa, sehingga ia tidak melihat adanya luka lebam pada santri tersebut.
Keesokan harinya, MMA meminta izin untuk tidak mengikuti aktivitas pondok dengan alasan sakit. Belakangan diketahui, santri berusia 12 tahun tersebut dibawa oleh pihak orang tuanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Setelah di bawa ke rumah sakit, kondisinya kemudian dilaporkan semakin memburuk.
Pada Senin (15/12), Eko menerima kabar bahwa MMA harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Ia mengaku terkejut mendengar kondisi santrinya yang semakin memburuk.
Sayangnya, upaya medis yang telah dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa MMA hingga ia akhirnya dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
Mendapat kabar duka tersebut, Eko langsung mendatangi rumah duka pada Senin malam untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Keesokan harinya, pihak pondok pesantren juga datang secara resmi untuk bertakziah sebagai bentuk empati dan tanggung jawab moral.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, para santri di Ponpes Santri Manjung Wonogiri turut menggelar doa bersama untuk almarhum MMA setelah salat isya.
Pihak ponpes menyatakan duka yang mendalam atas peristiwa tersebut dan berharap proses hukum yang berjalan dapat mengungkap fakta sebenarnya secara adil dan transparan.
Penulis: Alif Rizki Wahyu N K