MAGELANG — Setelah 17 hari pencarian intensif, Syafiq Ridhan Ali Razan, 18 pendaki asal Kota Magelang yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Slamet, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jasad korban ditemukan di jalur Punggungan Gunung Malang pada Rabu (15/1).
Kepastian penemuan Ali disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang Catur Budi Fajar Sumarmo.
"Sekitar pukul 10.30, kami mendapat informasi dari tim SAR di puncak bahwa Ali sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia," kata Catur saat konferensi pers di kantor Setda Kota Magelang, Rabu (15/1).
Catur menyebut, jasad Ali ditemukan di jalur Punggungan Gunung Malang. Tepatnya di lereng puncak sisi selatan, di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden. "Korban ditemukan di lereng puncak dengan perkiraan kedalaman sekitar 50 meter dari punggungan," jelas Catur.
Proses evakuasi jenazah berlangsung cukup panjang dan penuh tantangan. Tim SAR memperkirakan waktu evakuasi dari titik penemuan menuju basecamp memerlukan waktu hampir 15 jam. Karena kondisi medan yang ekstrem serta lokasi korban yang berada di tebing kawah.
Ali merupakan anak ketiga dari pasangan Dhani Rusman dan Utari Juanita, yang berstatus sebagai ASN di lingkungan pemkot.
Pemkot Magelang juga memastikan pendampingan psikologis bagi keluarga korban, termasuk koordinasi dengan pihak sekolah. "Kami sejak awal melakukan pendampingan, termasuk kepada orang tua Ali dan juga keluarga Himawan," imbuhnya.
Baca Juga: Sidang Penganiayaan Santri Ponpes Santri Manjung Wonogiri Digelar, 10 Saksi Diperiksa Maraton
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Magelang Candra Wijatmiko Adi menyebut, sejak laporan hilangnya Ali, BPBD Kota Magelang secara aktif mengirim personel untuk membantu pencarian.
"Sejak 30 Desember, kami mengirim personel, awalnya lima orang dan kemudian bertambah hingga total 11 personel," katanya.
BPBD pun terus berkoordinasi dengan dengan relawan di lapangan untuk mengetahui informasi pencarian. Dia menegaskan, kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan dan kepatuhan terhadap prosedur pendakian.
Baca Juga: PP Muhammadiyah Terima Kunjungan Silaturahmi DPP LDII, Ada Apa?
Candra menambahkan, BPBD berencana melakukan pembinaan kepada sekolah dan masyarakat terkait keselamatan kegiatan pendakian gunung.
"Siapapun yang naik gunung harus betul-betul memahami risiko dan memiliki kualifikasi yang memadai. SOP pendakian harus dipatuhi," tegasnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo