SOLO – Kabar gembira bagi para pecinta buah durian di Kabupaten Klaten dan sekitarnya. Pemerintah Kecamatan Jatinom bakal menggelar Festival Durian 2026 di Lapangan Merdeka Desa Randulanang, Minggu (8/2/2026) mendatang.
Festival tahun ini menjanjikan kemeriahan dengan pembagian 6.000 paket buah durian yang sudah dikupas secara gratis kepada para pengunjung. Jumlahnya mengalami penambahan jika dibandingkan dengan jumlah yang disediakan pada tahun sebelumnya sekira 4.000 paket.
Acara direncanakan akan dimulai pukul 07.00 yang diawali dengan kegiatan senam bersama. Mengenai teknis pembagian, Camat Jatinom Agus Sunyata menjelaskan akan menggunakan sistem kupon.
Namun, ada perubahan sasaran penerima kupon pada tahun ini untuk memberikan apresiasi kepada pengunjung yang datang langsung ke lokasi.
Mereka yang datang langsung berkesempatan mendapatkan buah durian secara cuma-cuma dari gunungan yang berisikan buah durian yang sudah dikupas.
”Ini baru kita rapatkan. Kalau sekarang mungkin kita nanti warga datang yang hadir pada pagi-pagi. Jadi khusus yang hadir, bukan untuk warga-warga sekitar (yang tidak datang). Kita tidak kasih," tegasnya.
Pola pengadaan buah durian yang akan dibagikan kepada pengunjung secara gratis mengalami perubahan.
Jika tahun sebelumnya diserahkan kepada para tengkulak atau pedagang, tahun ini menjadi tanggungjawab sepenuhnya kepada pengurus RT dan RW di Desa Randulanang.
Agus menekankan, pengurus RT dan RW bertanggung jawab penuh pada kualitas durian yang akan dibagikan kepada pengunjung.
Ia meminta untuk tidak sampai mengecewakan masyarakat sehingga pemilihan buah durian di Randulanang menjadi perhatiannya.
Lebih jauh, Agus memiliki visi agar Desa Randulanang tidak hanya sekadar tempat festival. Namun bertransformasi menjadi Kampung Durian seutuhnya.
”Harapan kami nanti benar-benar menjadi kampung durian. Mampu menghasilkan durian yang bukan hanya durian lokal tapi durian yang premium. Sama-sama memelihara kenapa kok hanya (mengembangkan buah durian) lokal saja,” jelasnya.
Saat ini Desa Randulanang didominasi dengan durian lokal yang memiliki cita rasa manis pahit. Hanya saja dalam pengembangannya dinilai belum maksimal karena tumbuh pada kebun warga.
Beberapa warga sebenarnya juga sudah menanam durian varietas unggul seperti Bawor, Musang King dan Montong.
Meski begitu jumlahnnya masih terbatas, namun keberadaaannya diharapkan bisa memotivasi warga untuk menekuni secara serius dengan menjadi petani buah durian.
”Harapannya pengembangan buah durian di Randulanang mulai menerapkan sistem pertanian terintegrasi yang didampingi oleh akademisi. Tentunya dengan menanam tanaman pendamping seperti alpukat mentega dan jeruk serta mengintegrasikan dengan peternakan,” ujar Agus. (ren/adi/laz)
Editor : Sevtia Eka Nova