Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Petani Grobogan Terdampak Banjir Diminta untuk Melapor, Pemprov Jateng Dorong Klaim Asuransi Usaha Tani Padi

Bahana. • Kamis, 19 Februari 2026 | 11:51 WIB

Photo
Photo
Banjir melanda 1.842 hektare sawah di Grobogan, Jawa Tengah. Pemprov Jateng meminta petani terdampak segera melaporkan lahan mereka untuk klaim klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa pihaknya akan menilai tingkat kerusakan tanaman untuk memastikan apakah benar-benar terjadi gagal panen.

“Petugas pengendali organisme pengganggu tanaman atau POPT nanti cek di lapangan bahwa ini puso apa tidak. Karena kalau dalam kondisi terendam kan agak sulit untuk mendeteksi,” katanya, seusai mendampingi Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau banjir di Kabupaten Grobogan, Selasa (17/2/2026).

Menurut data sementara Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jateng, banjir akibat cuaca ekstrem pada Senin (16/2/2026) merendam sekitar 1.842 hektare lahan pertanian di Grobogan. Data ini masih akan diverifikasi lebih lanjut di lapangan.

Fransisco menjelaskan, jika pengecekan menunjukkan tanaman benar-benar gagal panen, laporan tersebut akan disampaikan ke PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) selaku pihak yang menangani program AUTP.

“Nah, jadi setelah itu kemudian dia bersama teman-teman lapangan melaporkan kondisi itu ke Jasindo, sebagai penanggung jawab asuransi usaha tani padi,” jelasnya.

Fransisco menyatakan bahwa belum semua petani tercatat dalam program AUTP, sehingga sebagian masih belum terlindungi asuransi. Karena itu, pihaknya terus mendorong petani, khususnya di daerah rawan bencana, untuk segera mendaftarkan lahannya melalui penyuluh pertanian

“Kita dorong masyarakat dengan kondisi daerah-daerah yang mungkin berpotensi untuk terjadinya bencana itu, untuk mendaftarkan diri. Karena kalau tidak itu kan tidak ter-cover,” beber Fransisco.

Mengenai prosedur klaim, pelaporan harus dilakukan maksimal satu minggu setelah kejadian, sehingga petani yang terdampak diimbau segera melaporkan kondisi lahannya.

“Paling tidak seketika kejadian sudah difoto, lapor dulu secara SMS, WA, dan sebagainya. Kemudian baru petugas turun untuk mengecek lapangan kebenarannya,” katanya.

Melalui langkah ini, Pemprov Jateng berharap petani terdampak banjir tetap terlindungi sekaligus menjaga stabilitas produksi padi demi mencapai swasembada pangan, meskipun tahun lalu Jateng sempat mengalami gagal panen hingga 35 ribu hektare, namun produksi padi secara keseluruhan tidak terlalu terdampak.

Secara nasional, Jateng menempati peringkat ketiga penyumbang padi terbesar pada 2025 dengan sekitar 9,3 juta ton gabah kering giling, dan optimistis meningkat pada 2026 sesuai fokus Gubernur Ahmad Luthfi pada sektor pangan pada 2026

Editor : Bahana.
#asuransi usaha tani padi #Pemprov Jateng #banjir grobogan #Gubernur Jateng Ahmad Luthfi