SOLO - Teka-teki penyebab kematian Wisnu Adi Prasetyo, 16, pelajar SMPN 2 Sumberlawang, Sragen usai terlibat duel maut, Selasa (7/4) perlahan mulai terungkap. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sragen turun tangan untuk menyisir tempat kejadian perkara (TKP) guna mencari motif dan kronologi kejadian.
Pantauan di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen, suasana haru masih menyelimuti ruang jenazah. Korban diketahui merupakan siswa kelas VIII. Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Agus Yudho Praseno hadir langsung untuk mengawal proses awal penyelidikan.
”Saya baru mau ke TKP ini untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujar Agus Yudho saat dikonfirmasi di RSUD Sragen. Pihaknya menegaskan kepolisian sedang bergerak cepat menindaklanjuti laporan yang masuk.
Baca Juga: Listrik dan Bensin Jadi 'Biang Kerok' Inflasi DIY Maret 2026, Tembus 4,08 Persen
Meski demikian, Agus meminta semua pihak bersabar karena timnya bersama Polsek Sumberlawang masih mengumpulkan bukti-bukti fisik maupun keterangan saksi di lapangan.
”Kami sedang melakukan langkah-langkah penyelidikan. Belum saatnya disampaikan secara detail kepada teman-teman media. Mohon bersabar dulu, kita tindak lanjuti laporan yang ada,” imbuhnya.
Di sisi lain, Kepala SMPN 2 Sumberlawang Agung Jatmiko memberikan keterangan tambahan terkait sosok korban dan pelaku inisial DTP. Menurutnya, perkelahian maut di kamar mandi sekolah tersebut melibatkan siswa yang duduk di bangku kelas 8.
Baca Juga: Baru Diluncurkan, Platform OCTOBIZ Milik CIMB Niaga Sudah Digunakan Lebih dari 20 Ribu Perusahaan
Selama ini, hubungan antarsiswa di sekolah itu dinilai berjalan normal sebagaimana lingkungan pendidikan pada umumnya. Terkait penyebab pasti kematian, apakah akibat benturan benda tumpul atau serangan fisik tertentu, Agung mengaku tidak ingin berspekulasi.
Ia memilih menyerahkan sepenuhnya kepada hasil otopsi medis dan penyelidikan kepolisian. ”Saya kurang tahu persis kalau soal itu. Tadi begitu mendapat kabar, saya langsung melapor ke dinas dan diminta segera merapat ke rumah sakit untuk mendampingi keluarga,” jelas Agung.
Hingga Selasa sore, tim UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sragen masih tampak berada di lokasi untuk memberikan pendampingan psikologis kepada pihak terkait. Mengingat kasus ini melibatkan pelaku yang juga masih berstatus anak di bawah umur. Proses olah TKP di lingkungan sekolah pun dijaga ketat untuk kepentingan penyidikan. (din/adi/laz)
Editor : Sevtia Eka Nova