Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Waspada Tebing 90 Derajat, Longsor Sangkanayu Purbalingga Rusak Tiga Rumah dan Telan Satu Korban Jiwa

Heru Pratomo • Senin, 13 April 2026 | 22:23 WIB
Bencana tanah longsor terjadi di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, pada Minggu (12/4/2026).
Bencana tanah longsor terjadi di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, pada Minggu (12/4/2026).

 

 

PURBALINGGA – Bencana tanah longsor melanda Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, pada Minggu (12/4). Peristiwa tragis ini mengakibatkan satu orang warga meninggal dunia, satu luka-luka, serta menyebabkan kerusakan parah pada tiga rumah warga akibat terjangan material tanah dan batu.

Titik longsor tepatnya berada di RT 14 RW 5 Dusun Tambleg Pondokangka. Material longsoran dari tebing di belakang permukiman warga tiba-tiba runtuh dan menghantam bagian belakang bangunan rumah hingga rusak berat.

Merespons musibah tersebut, Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif langsung meninjau lokasi kejadian. Dalam kunjungannya, Bupati menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus menyerahkan santunan duka dari Pemkab Purbalingga, Baznas, dan PMI.

Baca Juga: Tragedi Maut SMPN 2 Sumberlawang; Pelaku dan Korban Ternyata Sahabat sejak TK, Kini Terguncang Hebat

“Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Kami ikut berduka atas musibah ini, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Bupati Fahmi saat memberikan dukungan moril kepada warga terdampak, Senin (13/4).

Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk hadir cepat dalam kondisi darurat. “Pemerintah hadir tidak hanya dalam penanganan awal, tetapi juga dalam upaya pemulihan pascabencana agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman,” tegasnya.

Kajian Geologi: Tebing Mendekati 90 Derajat Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga, Revon Haprindiat, merinci tiga rumah yang terdampak adalah milik Sunaryo, Sugiatno, dan Yono. Berdasarkan hasil kajian awal Tim Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), lokasi tersebut memang memiliki risiko tinggi.

Baca Juga: Festival Langencarita 2026, Anak-Anak di Kota Jogja Ajak Orang Dewasa Berhenti Nyampah lewat Tembang  

“Longsor berasal dari tebing yang sangat curam di belakang rumah warga. Hasil kajian menunjukkan kemiringan tebing mendekati 90 derajat, sehingga sangat berpotensi longsor ketika terjadi ketidakstabilan lereng,” jelas Revon.

Ia menambahkan bahwa proses evakuasi material menghadapi kendala akses alat berat. Akibatnya, petugas dan warga harus bekerja secara manual untuk memecah bongkahan batu dan membersihkan area terdampak.

Langkah Mitigasi: Terasering dan Gotong Royong Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, BPBD bersama Tim Geologi Unsoed merekomendasikan penataan ulang lereng di kawasan tersebut.

Baca Juga: Ini Gejala Dehidrasi di Tengah Peralihan Musim, Dinkes Kota Jogja Ingatkan Bahayanya dan Imbau Sering Minum Air Putih

“Kami merekomendasikan penataan lereng dengan sistem berundak atau terasering. Dengan begitu, jika terjadi longsor susulan, material dapat tertahan dan tidak langsung menghantam permukiman warga,” pungkas Revon.

Selain penataan teknis, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan melakukan pembersihan lereng secara gotong royong dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan diri.

Editor : Heru Pratomo
#Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif #geologi #Unsoed #purbalingga #tanah longsor