MAGELANG - Transformasi kelembagaan Universitas Tidar (Untidar) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) mulai menunjukkan dampak signifikan. Pendapatan operasional tercatat menembus Rp 233,28 miliar pada 2025, meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Rektor Untidar Prof Sugiyarto menyebut, capaian tersebut sebagai bukti bahwa perubahan status kelembagaan bukan sekadar administratif. Melainkan langkah nyata menuju kemandirian finansial dan pengelolaan kampus yang lebih profesional.
"Ini bukan sekadar label. Status PTN-BLU memberi keleluasaan bagi kami untuk mengelola pendapatan secara mandiri, fleksibel, dan akuntabel," ujarnya di Kampus Tuguran, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Cuma 24 Penilik Awasi Ribuan PAUD Nonformal di DIY, Daycare Jogja Rawan Luput Pengawasan!
Dia merinci, pendapatan operasional Untidar pada 2025 naik 13,51 persen dibandingkan 2024, dan melonjak 36,54 persen dibandingkan 2023.
Satu indikator paling mencolok adalah kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai 48,9 persen atau melonjak drastis dari 0 persen pada 2023.
Perubahan ini, kata dia, juga diikuti penurunan ketergantungan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dari sebelumnya 100 persen pada 2023 menjadi 50,53 persen pada 2025. Bahkan, tingkat kemandirian keuangan Untidar saat ini berada di angka 57,85 persen.
Meski demikian, Sugiyarto menegaskan, capaian tersebut belum menjadi titik akhir. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Untidar menargetkan tingkat kemandirian mencapai 85 persen sesuai skema Pengelolaan Keuangan BLU.
Satu strategi utama untuk mencapai target tersebut adalah optimalisasi aset kampus yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Untidar diketahui memiliki sejumlah aset tersebar di berbagai wilayah, seperti Bandongan, Mertoyudan, dan Grabag di Kabupaten Magelang, hingga kawasan Kledung di Kabupaten Temanggung.
"Aset-aset yang selama ini belum optimal akan kami manfaatkan untuk mendukung kegiatan pendidikan sekaligus menjadi sumber pendapatan baru," bebernya.
Selain itu, kampus juga akan mengembangkan berbagai layanan berbayar seperti sertifikasi, pelatihan, uji kompetensi, program bahasa untuk penutur asing (BIPA), hingga penyewaan fasilitas.
Unit-unit kewirausahaan di lingkungan kampus juga akan diperkuat sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan.
Di luar aspek finansial, kampus juga menyiapkan berbagai agenda strategis lain. Seperti peningkatan akreditasi program studi, percepatan jabatan fungsional dosen, digitalisasi sistem terpadu berbasis kecerdasan buatan, hingga internasionalisasi riset dan kurikulum.
Baca Juga: Kisah Lahirnya Puntadewa: Siasat Buah Surga Resi Druwasa dan Awal Mula Awangga Takluk pada Hastina
Momentum transformasi ini bertepatan dengan peringatan Dies Natalis ke-47 Untidar pada 2026, yang mengusung tema Vidya Loka Adhikarya atau Ilmu Berdampak bagi Peradaban. Tema tersebut menjadi refleksi sekaligus arah pengembangan kampus ke depan.
"Kita tidak boleh melupakan sejarah, tapi juga harus bergerak cepat menghadapi tantangan ke depan," tegasnya.
Dalam konteks itu, ia menegaskan tiga pilar utama pengembangan Untidar ke depan. Yakni penguatan sistem informasi (digitalisasi), peningkatan kualitas SDM, dan kemandirian finansial.
Baca Juga: Gantikan Antibiotik Ayam dengan Daun Sungkai, Bella Putri Maharani Raih Gelar Doktor Termuda UGM
Selain itu, Untidar juga mendorong kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah daerah dan dunia usaha.
Dalam waktu dekat, kampus berencana menggelar forum diskusi yang melibatkan peneliti, pemerintah daerah se-Kedu Raya, serta pelaku usaha. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita