Baca Juga: Pengedar asal Wonogiri Dibekuk di Kartasura Sukoharjo, Dijanjikan Upah Rp 4 Juta Per 100 Gram Sabu
Salah satu poin krusial yang disoroti Gusti Puger adalah lemahnya manajemen undangan dan penyampaian informasi di lingkungan internal keraton. Hal inilah yang dinilai sering memicu ksalahpahaman atau ketidakhadiran sejumlah sentono dalem dalam pertemuan penting.
Ia mengusulkan agar keraton mulai menata mekanisme administrasi, baik secara fisik maupun digital, agar setiap kerabat memiliki dokumentasi dan informasi yang setara mengenai setiap tahapan revitalisasi.
Pola pelibatan pihak internal juga dinilai perlu diperbaiki agar tidak ada pihak yang merasa ditinggalkan. “Keraton ini punya bebadan dan birokrasi. Kalau pemerintah masuk tanpa dirangkul dengan sistem yang ada, nanti akan muncul kebingungan dan kesalahpahaman,” katanya.
Gusti Puger menyarankan agar birokrasi keraton yang sudah ada, seperti pengelola museum, pusaka, hingga pariwisata, dioptimalkan sebagai mitra kerja pemerintah agar proses pengerjaan di lapangan tetap selaras dengan paugeran atau adat istiadat yang berlaku.
Sebagai solusi konkret, Gusti Puger mengusulkan pembentukan sebuah panitia khusus revitalisasi yang memiliki struktur formal dan transparan.
Panitia ini idealnya menjadi jembatan yang mempertemukan unsur pemerintah, BUMN, perbankan, hingga seluruh elemen di keraton mulai dari sentono dalem sampai abdi dalem.
Dengan adanya wadah resmi ini, setiap bidang dapat bekerja sesuai porsinya dan meminimalkan potensi konflik kepentingan personal yang seringkali muncul di permukaan. Revitalisasi Keraton Solo harus dipandang dalam bingkai yang lebih luas, yakni sebagai upaya penyelamatan aset sejarah bangsa.
Gusti Puger mengingatkan bahwa jika pertikaian terus dipelihara, maka pihak luar akan enggan memberikan bantuan lebih lanjut. “Pemerintah sudah hadir membantu. Jangan malah diajak terus bertengkar. Ini demi keraton dan peninggalan leluhur,” tegasnya.
Melalui sikap kooperatif dan keterbukaan komunikasi, ia optimis Keraton Solo akan kembali bersinar tanpa harus terbelenggu oleh masalah kepemimpinan yang belum berkesudahan. (atn/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita