Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ontran-Ontran Keraton Solo yang Makin Panas, KGPH Puger: Singkirkan Dulu Masalah Suksesi, Fokus Selamatkan Warisan Budaya!

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 10 Mei 2026 | 20:30 WIB
Polemik internal Keraton Kasunanan Surakarta yang seperti tak berujung dikhawatirkan mengganggu upaya perbaikan fisik keraton oleh pemerintah pusat.  (DOK.RADAR SOLO)
Polemik internal Keraton Kasunanan Surakarta yang seperti tak berujung dikhawatirkan mengganggu upaya perbaikan fisik keraton oleh pemerintah pusat. (DOK.RADAR SOLO)

SOLO - Dinamika internal di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diharapkan tidak menjadi penghambat kelancaran revitalisasi fisik yang dilakukan pemerintah pusat. Putra dalem Pakubuwono (PB) XII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger memberikan seruan tegas agar seluruh kerabat dan keluarga besar keraton mengesampingkan polemik suksesi kepemimpinan.
Fokus utama saat ini seharusnya diarahkan pada upaya penyelamatan fisik bangunan dan warisan budaya yang menjadi tanggung jawab kolektif sebagai peninggalan leluhur.
Ia memandang perhatian besar pemerintah pusat terhadap Keraton Solo merupakan momentum langka yang harus disambut dengan kekompakan internal.
Baginya, pertikaian mengenai takhta atau posisi kekuasaan hanya akan memperuncing konflik dan memperlemah posisi keraton di mata publik maupun pemerintah.

Baca Juga: Pengedar asal Wonogiri Dibekuk di Kartasura Sukoharjo, Dijanjikan Upah Rp 4 Juta Per 100 Gram Sabu

Ia mendorong agar isu pergantian kepemimpinan disimpan terlebih dahulu demi kelancaran pembangunan infrastruktur keraton yang sudah lama mendambakan perbaikan menyeluruh.
“Saya setuju revitalisasi. Dari awal saya mendukung. Tapi caranya harus dirembukkan bersama supaya semua merasa dilibatkan. Suksesi singkirkan dulu, mari sama-sama membangun peninggalan leluhur,” ujar Gusti Puger saat memberikan keterangan, Minggu (10/5/2026).
Ia menegaskan kehadiran pemerintah untuk membantu pendanaan dan teknis renovasi tidak boleh disia-siakan hanya karena adanya gesekan komunikasi di dalam lingkungan keluarga besar.

Baca Juga: Dilema Pedagang Pasar Klithikan Pakuncen Jogja yang Kian Sepi: Berjualan Offline Sepi, Tawarkan Online Rugi

Salah satu poin krusial yang disoroti Gusti Puger adalah lemahnya manajemen undangan dan penyampaian informasi di lingkungan internal keraton. Hal inilah yang dinilai sering memicu ksalahpahaman atau ketidakhadiran sejumlah sentono dalem dalam pertemuan penting.

Ia mengusulkan agar keraton mulai menata mekanisme administrasi, baik secara fisik maupun digital, agar setiap kerabat memiliki dokumentasi dan informasi yang setara mengenai setiap tahapan revitalisasi.

Pola pelibatan pihak internal juga dinilai perlu diperbaiki agar tidak ada pihak yang merasa ditinggalkan. “Keraton ini punya bebadan dan birokrasi. Kalau pemerintah masuk tanpa dirangkul dengan sistem yang ada, nanti akan muncul kebingungan dan kesalahpahaman,” katanya.

Baca Juga: Efek PMK, Harga Sapi Kurban di Kulon Progo Naik Rp 2 Juta Per Ekor: Akibat Minimnya Stok Ternak Pascawabah Tahun Lalu 

Gusti Puger menyarankan agar birokrasi keraton yang sudah ada, seperti pengelola museum, pusaka, hingga pariwisata, dioptimalkan sebagai mitra kerja pemerintah agar proses pengerjaan di lapangan tetap selaras dengan paugeran atau adat istiadat yang berlaku.

Sebagai solusi konkret, Gusti Puger mengusulkan pembentukan sebuah panitia khusus revitalisasi yang memiliki struktur formal dan transparan.

Panitia ini idealnya menjadi jembatan yang mempertemukan unsur pemerintah, BUMN, perbankan, hingga seluruh elemen di keraton mulai dari sentono dalem sampai abdi dalem.

Baca Juga: Warga Mengeluh Sesak Nafas dan Iritasi Mata, Puluhan Warga di Kalasan Dievakuasi karena Mencium Gas Bocor

Dengan adanya wadah resmi ini, setiap bidang dapat bekerja sesuai porsinya dan meminimalkan potensi konflik kepentingan personal yang seringkali muncul di permukaan. Revitalisasi Keraton Solo harus dipandang dalam bingkai yang lebih luas, yakni sebagai upaya penyelamatan aset sejarah bangsa.

Gusti Puger mengingatkan bahwa jika pertikaian terus dipelihara, maka pihak luar akan enggan memberikan bantuan lebih lanjut. “Pemerintah sudah hadir membantu. Jangan malah diajak terus bertengkar. Ini demi keraton dan peninggalan leluhur,” tegasnya.

Melalui sikap kooperatif dan keterbukaan komunikasi, ia optimis Keraton Solo akan kembali bersinar tanpa harus terbelenggu oleh masalah kepemimpinan yang belum berkesudahan. (atn/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#KGPH Puger #penyelamatan fisik bangunan #keraton solo #warisan budaya #suksesi