Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Belasan Ton Ikan di Waduk Cengklik Boyolali Mati Mendadak: Menular dari Satu Karamba ke Karamba Lain dengan Cepat

Adib Lazwar Irkhami • Jumat, 15 Mei 2026 | 20:47 WIB
Ikan-ikan di karamba jaring apung Waduk Cengklik, Boyolali mati mendadak, Jumat (15/5/2026). (ISTIMEWA)
Ikan-ikan di karamba jaring apung Waduk Cengklik, Boyolali mati mendadak, Jumat (15/5/2026). (ISTIMEWA)

 

SOLO  - Petani ikan karamba jaring apung (KJA) di kawasan Waduk  Cengklik, Boyolali, dirundung nestapa. Sejak Jumat (15/5/2026) siang, belasan ton ikan jenis nila mati mendadak akibat fenomena upwelling atau pembalikan massa air.


Kematian ikan terjadi secara beruntun dan menular dari satu petak keramba ke petak lainnya dalam waktu yang relatif singkat. Kematian massal ikan ini diduga kuat dipicu oleh anomali cuaca berupa hujan lebat pada Kamis (14/5) petang.

Baca Juga: Dituduh Mencuri, Anak Bawah Umur di Giritontro Wonogiri Diikat di Tiang Bangunan dan Sempat Dipukul: Polisi Amankan 4 Warga


Guyuran air hujan menyebabkan suhu permukaan air menurun drastis, sehingga lapisan air bawah yang dingin, minim oksigen, namun kaya akan endapan gas beracun naik ke permukaan.
Kondisi inilah yang membuat ribuan ikan nila di dalam keramba mengalami sesak napas dan mati lemas secara mendadak karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan kualitas air yang ekstrem.


“Dampaknya terhadap berapa KJA dan total kematian ikan masih kami hitung,” jelas Suhartono, petani KJA.

Baca Juga: Minta Raperda Mihol di Kulon Progo Melarang Miras, Bukan Sekadar Pengendalian dan Pengawasan


Diakui Suhartono, fenomena ini menjadi momok rutin bagi para petani setempat, terutama saat masa transisi cuaca atau pascahujan intensitas tinggi.

Sementara itu, kondisi keramba yang dipenuhi bangkai ikan, para petani melakukan aksi pembersihan mandiri secara massal. Langkah ini diambil secara cepat guna mencegah pembusukan bangkai ikan di dalam air yang dapat memperparah pencemaran dan mengancam keselamatan sisa ikan yang masih hidup.


Ikan-ikan yang mati dikubur agar bau menyengat tidak mengganggu lingkungan sekitar waduk yang juga menjadi destinasi wisata. Meski sudah sering terjadi, kerugian kali ini dirasa cukup memukul ekonomi para petani karena ikan yang mati sudah memasuki usia siap panen.

Baca Juga: Bongkar Dugaan Pungli! Warga Garongan Datangi Kantor Pemkab Kulon Progo, Tuntut Gerak Cepat Usut Oknum Lurah


Suhartono dan kelompok tani lainnya kini hanya bisa pasrah sembari melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi air waduk guna mengantisipasi adanya gelombang upwelling susulan.


Minimnya alat sirkulasi oksigen tambahan di tingkat keramba rakyat membuat para petani sangat bergantung pada kondisi alam. (fid/laz)

Editor : Sevtia Eka Nova
#Waduk  Cengklik #keramba #petani #Gelombang #fenomena