Baca Juga: Nodai Kemenangan Persis Solo, 33 Oknum Suporter Diamankan Polresta Solo
Akibatnya, suasana perayaan kemenangan yang harusnya meriah berubah menjadi situasi darurat bagi penonton rentan.
Direktur Persis Solo sekaligus Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Pertandingan Ginda Ferachtriawan mengungkapkan rasa kekecewaannya yang mendalam atas ketidakpatuhan oknum suporter terhadap regulasi keselamatan.
Sanksi denda yang pernah diterima klub di masa lalu rupanya belum cukup menjadi pembelajaran bagi sebagian penonton di tribun. “Ini sangat kami sesalkan. Kami sebenarnya sudah berulang kali mengimbau agar tidak ada flare, smoke bomb, maupun petasan di dalam stadion. Kami juga pernah mendapat sanksi akibat kejadian serupa,” ujar Ginda, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: Sempat Vakum, Pemilihan Bagus Roro Purworejo Kembali Digelar Tahun Ini
Panpel menegaskan bahwa upaya pencegahan telah dilakukan secara maksimal melalui penyisiran berlapis sebelum pintu gerbang stadion dibuka untuk umum. Petugas keamanan bahkan telah mengendus adanya modus penyelundupan barang terlarang yang dilakukan satu hari sebelum pertandingan dengan cara menyisipkannya di fasilitas-fasilitas tersembunyi di dalam area tribun penonton.
“Petugas sebenarnya sudah bekerja maksimal. Sebelum pertandingan kami sudah mengamankan banyak flare dan kembang api. Ada yang dibawa penonton, ada juga yang disimpan atau diumpetkan di area stadion,” kata Ginda.
Dari rangkaian razia pra-pertandingan tersebut, polisi mengamankan 33 suporter beserta puluhan barang bukti termasuk 23 flare, 7 smoke bomb, 11 petasan, dan minuman keras. Namun, beberapa buah flare tetap lolos dari pemeriksaan petugas.
Baca Juga: Perokok di Jogja Terancam Kena Sanksi Lebih Berat, Bisa Ditindak Langsung di Tempat
Dampaknya langsung dirasakan di lapangan. Sebanyak delapan penonton dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut dan serangan panik di tengah ketebalan asap kimia yang menyengat mata dan tenggorokan.
Tim medis dan armada ambulans yang bersiaga di pinggir lapangan bergerak cepat melakukan evakuasi korban ke tempat terbuka. “Ada yang sesak napas, ada juga yang panik karena kondisi tribune penuh asap," ungkap Ginda. "Bahkan ada anak kecil yang dibawa ibunya meminta diamankan karena ketakutan,” imbuhnya.
Beruntung, seluruh korban dapat tertangani dengan baik di lokasi tanpa harus dilarikan ke rumah sakit rujukan karena kondisi fisik mereka berangsur stabil setelah diberikan bantuan tabung oksigen.
Baca Juga: Terapi Laser Sejak Dini: Kunci Keberhasilan Penanganan Port Wine Stain pada Bayi
Pascakejadian ini, manajemen Laskar Sambernyawa kini dihadapkan pada ancaman hukuman berat dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Kerugian finansial akibat denda bernilai ratusan juta rupiah kini membayangi kas klub.
Sebuah situasi yang sangat disayangkan mengingat manajemen tengah menguras energi untuk menjaga stabilitas operasional tim di akhir musim kompetisi yang krusial ini.
Panpel kini tengah merumuskan nota pembelaan resmi yang akan dilampiri bukti-bukti visual mengenai penangkapan serta penyitaan barang bukti yang telah dilakukan petugas sebagai bentuk komitmen klub dalam menegakkan aturan.
Kendati demikian, beban sanksi tetap menjadi tanggung jawab kolektif yang merugikan eksistensi klub secara jangka panjang. “Kami tidak ingin menyalahkan suporter. Tapi kalau ada korban dan ada sanksi, tentu klub juga yang dirugikan," tegas Ginda. "Di satu sisi suporter ingin tim lebih baik, tapi di sisi lain kalau terkena denda besar tentu memberatkan klub,” lanjut dia.
Evaluasi total terhadap sistem pengamanan gerbang masuk serta pengawasan CCTV tribun dipastikan akan diperketat secara radikal demi menjamin keselamatan penonton pada musim-musim selanjutnya. (atn/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita