SOLO - Tradisi tahunan Garebeg Besar Idul Adha di Keraton Kasunanan Solo tahun ini berpotensi kembali diwarnai oleh dualisme pelaksanaan. Pihak SISKS Pakubuwono (PB) XIV Hamangkunagoro bersiap menggelar upacara adat tersebut pada Rabu (27/5). Sementara di sisi lain, pihak lembaga keraton bentukan pemerintah dikabarkan akan menghelat agenda serupa sehari setelahnya.
Rencana Garebeg Besar dari kubu PB XIV Purbaya telah memasuki tahapan final setelah melintasi proses perizinan dan koordinasi lintas sektor dalam rapat koordinasi (Rakor) di Talang Paten, Kompleks Keraton Solo, Selasa (19/5) siang. Berdasarkan hasil keputusan, kirab budaya ini akan dilaksanakan beberapa jam pasca-Salat Idul Adha.
"Mengenai teknis kegiatannya tetap berjalan seperti pakem biasa. Tradisi Garebeg Idul Adha ditandai dengan keluarnya sepasang gunungan dari dalam keraton, diarak menuju Masjid Agung untuk didoakan, baru kemudian dibagikan secara rebutan kepada masyarakat," terang Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, sehabis rakor.
Sesuai rute klasiknya, iring-iringan prajurit dan gunungan akan berangkat dari Pelataran Keraton Solo (Kori Kamandungan), melintasi Alun-Alun Utara melalui Pagelaran, hingga berakhir di Masjid Agung Solo. Menariknya, gelaran ini merupakan upacara garebeg perdana semenjak Gusti Purbaya resmi dinobatkan sebagai PB XIV.
Baca Juga: Didoakan Mabrur dan Mabrurah, Bupati Purworejo Yuli Hastuti Lepas 345 CJH ke Embarkasi YIA
“Kebetulan ini adalah upacara garebeg yang kali pertama diadakan di bawah masa takhta Paku Buwono XIV. Kami menjadwalkannya jatuh pada tanggal 27 Mei nanti,” imbuh Gusti Timoer.
Saat disinggung mengenai adanya jadwal tandingan yang kabarnya akan dibuat oleh pihak KGPH Panembangan Agung Tedjowulan pada 28 Mei, putri tertua mendiang PB XIII Hangabehi itu memberikan jawaban menohok. Ia menegaskan ritual adat seperti garebeg, gunungan, maupun Suro, secara hukum adat mutlak merupakan Dhawuh Dalem (titah resmi seorang Raja).
Baca Juga: Nodai Kemenangan Persis Solo, 33 Oknum Suporter Diamankan Polresta Solo
“Acara adat itu bersumber dari perintah Raja. Makanya saya justru bingung kalau Gusti Tedjo mau membuat acara serupa sendiri. Rajane sopo (Rajanya siapa)? Kan Gusti Tedjo bukan Raja di sini,” sentil Gusti Timoer.
Meskipun sempat memberikan kritik tajam, perempuan yang akrab disapa Gusti Timoer ini tetap membuka pintu damai. Ia mengajak kubu Tedjowulan untuk melebur bersama dalam barisan Grebeg Besar hari Rabu agar tidak membingungkan masyarakat lokal maupun wisatawan.
"Lho ya bagus kalau mau ikut, mari silakan bergabung bersama kami hari Rabu. Di kubu kami struktur rajanya sudah jelas dan ada. Kalau mengenai SK (Surat Keputusan) yang dipegang beliau (Tedjowulan) dari pemerintah, itu kan koridornya untuk urusan teknis revitalisasi fisik bangunan dan pelestarian budaya, bukan otoritas adat," tegasnya.
Sebagai informasi, eskalasi internal Keraton Solo memang sempat menghangat menjelang pelaksanaan Garebeg Besar Idul Adha Tahun Dal 1959 Jawa ini. KGPH Panembahan Agung Tedjowulan yang ditunjuk pemerintah sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Keraton Surakarta, sebelumnya telah merilis instruksi ketat.
Melalui rilis tertulis pada Rabu (13/5) lalu, pihak Tedjowulan meminta seluruh keluarga besar trah Mataram Islam ini untuk bersatu padu di bawah satu komando dan melarang adanya kelompok yang berjalan sendiri-sendiri demi kekhidmatan upacara adat tanpa gangguan konflik horizontal.
"Gusti Tedjowulan mengarahkan secara tegas agar seluruh pihak tidak lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Jangan mengadakan acara Grebeg Besar Iduladha sendiri-sendiri," tegas Juru Bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro, dalam keterangan tertulisnya. (ves/laz)
Sumber: Radar Solo