Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Rute Sama, Pusaka Sama, Dua Kubu Keraton Diminta Tahan Ego Saat Malam Satu Suro

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 9 Juni 2026 | 20:28 WIB
M. Ihsan/Radar Solo
Baliho kubu berseberangan di pintu masuk Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta.
Baliho kubu berseberangan di pintu masuk Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. (M. Ihsan/Radar Solo)

 

 SOLO - Momentum Malam Satu Suro tahun ini diprediksi menjadi ujian kedewasaan bagi seluruh elemen Keraton Kasunanan Surakarta. Sebab, dua kubu yang selama ini berbeda pandangan mengenai kepemimpinan keraton berpotensi bertemu dalam rangkaian Kirab Pusaka 1 Suro yang digelar Selasa malam (16/6).


Meski demikian, sinyal positif mulai ditunjukkan kedua belah pihak. Loyalis SISKS Paku Buwono (PB) XIV Purbaya maupun unsur Lembaga Dewan Adat Keraton sama-sama menyerukan agar ritual sakral tersebut berlangsung damai tanpa gesekan.


GKR Panembahan Timoer Kusuma Dewayani menegaskan, seluruh rangkaian upacara adat yang diselenggarakan pihaknya merupakan pelaksanaan dawuh dalem SISKS PB XIV selaku raja yang saat ini mereka yakini bertahta di Keraton Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: Dana BGN Seret, SPPG di Karanganyar Bertumbangan: Dua Sudah Mandek Total


Putri sulung almarhum SISKS PB XIII Hangabehi itu menyatakan pihaknya tidak mempermasalahkan apabila kelompok lain juga ingin melaksanakan tradisi Suro, sepanjang tetap mengedepankan suasana kondusif dan menghormati jalannya upacara adat.


“Dari kemarin saya sudah menegaskan bahwa acara ini digelar berdasarkan perintah seorang raja. Kalau mereka ingin melaksanakan Suro juga dan ingin bersama kami melaksanakan ini berdasarkan Dawuh Dalem PB XIV, monggo, tidak masalah. Itu justru menjadi momen yang baik jika kita bisa berjalan bersama-sama,” ujarnya seusai jumpa pers di Talang Paten, Keraton Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: Ruang Batu Bara PT Sritex 1 Sukoharjo Terbakar, Kerugian Ditaksir Mencapai Rp 40 Juta


Berdasarkan Rantaman Tata Upacara Kirab Pusaka 1 Suro Tahun BE 1960, rute kirab tahun ini tetap menggunakan jalur yang selama ini menjadi pakem pelaksanaan tradisi. Arak-arakan akan berangkat dari Keraton Surakarta menuju Supit Urang, Jalan Paku Buwono, Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, kembali ke Gladag, Alun-alun Utara, dan berakhir di Keraton Surakarta.


Rangkaian acara dimulai pukul 18.00 WIB dengan persiapan di Sasana Parasdya-Kamandungan dan diperkirakan selesai sekitar pukul 03.00 WIB saat rombongan kirab kembali memasuki kompleks keraton.

Baca Juga: Muncul Teror Pocong di Solo, Polisi Selidiki Motif Pelaku yang Mengarah Unsur Pidana


Menurut Dewayani, peluang bertemunya dua kelompok dalam prosesi tersebut sangat besar karena seluruh unsur utama ritual berada pada lokasi yang sama.


“Lokasinya sama, rutenya sama, Kebo Bule-nya sama, kemudian tempat keluarnya pusaka juga sama. Pasti kami akan bertemu di situ. Ketika bertemu, kami berharap tidak ada gesekan. Kami hanya menjalankan paugeran dan perintah raja. Karena itu kami meminta masyarakat maupun sentana menghormati acara ini,” tegasnya.


Ia menambahkan, jika sampai terjadi konflik dalam prosesi sakral tersebut, hal itu justru menunjukkan tidak adanya penghormatan terhadap tradisi yang sedang dijalankan.

Baca Juga: Pengadaan Tanah Tol Jogja-Bawen Capai 72,66 Persen, Konstruksi Sejumlah Seksi Dikebut Tahun Ini


Senada dengan itu, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta KPH Eddy Wirabhumi juga mendorong agar seluruh unsur di lingkungan keraton dapat melaksanakan peringatan Malam Satu Suro secara bersamaan dan dalam suasana yang harmonis.

Menurut Eddy, upacara adat yang telah menjadi bagian dari kalender budaya nasional itu tidak semestinya diwarnai tindakan maupun ucapan yang berpotensi memicu perpecahan.

Baca Juga: Tunjukkan Militansi Jalur Darat, Delegasi GPM DIY Warnai Strategi Kepemimpinan di Bali


“Ini acara sakral, jangan sampai diwarnai tindakan dan ucapan yang tidak baik. Kegiatan Malam 1 Suro sudah menjadi bagian dari kalender nasional sehingga pemerintah juga akan hadir untuk keraton,” katanya.


Eddy mengakui upaya menyatukan berbagai pihak di lingkungan Keraton Surakarta bukan pekerjaan mudah, terlebih di tengah dinamika internal yang masih berlangsung. Namun, menurutnya, upaya tersebut tetap harus dicoba demi menjaga marwah tradisi dan kelangsungan budaya keraton.


“Ini memang gampang diomongkan tetapi tidak mudah dilakukan. Namun kalau tidak dicoba, tidak akan pernah bisa,” pungkasnya. (ves/laz)
Sumber: Radar Solo

Editor : Sevtia Eka Nova
#Malam Satu Suro #Kirab Pusaka #1 Suro #momentum #keraton kasunanan surakarta