Baca Juga: Kejari Kebut Penyidikan Kasus Korupsi KONI Solo, Kerugian Negara Tembus Rp 1 Miliar
Partini menggunakan MinyaKita bau minyak tanah untuk menggoreng tahu dan tempe. Setelah dikonsumsi bersama keluarga, rasa masakan terasa aneh. Gangguan kesehatan langsung dirasakan Partini dan keluarga lainnya pasca-mengonsumsi gorengan tersebut.
"Efeknya di tenggorokan gatal, kering, kayak ada lendir tapi tidak bisa keluar. Jadi inginnya keluar dahak tapi tidak bisa, batuk terus. Ternyata tetangga saya juga banyak yang merasakan hal sama, bahkan sampai ada yang berobat ke dokter karena takut kena apa-apa," urai Partini.
Keluhan serupa ternyata merata di berbagai wilayah. Hingga akhirnya warga berinisiatif melaporkan temuan tersebut kepada ketua RW dan perangkat Desa Prawatan agar segera ditindaklanjuti.
Baca Juga: Bangkit Pascapandemi, Cokelat Ndalem Terus Berinovasi Padukan Cokelat dengan Kopi Papua
Merespons laporan dari warga, Pemerintah Desa Prawatan bergerak cepat. Kepala Desa Prawatan Sabiq Muhammad mengonfirmasi adanya gangguan kualitas pada komoditas MinyaKita yang didistribusikan kepada 667 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di wilayahnya.
"Kami buka posko aduan lewat Kepala Dusun (Kadus) pada 18 Juni lalu. Ternyata hampir di semua wilayah ada laporan keluhan, meskipun awalnya kurang dari 10 laporan," tutur Sabiq.
"Setelah kami telusuri, sebagian besar MinyaKita yang digunakan oleh warga memang bermasalah," imbuh kades. Rata-rata, warga merasakan rasa menu yang digoreng menggunakan MinyaKita bau minyak tanah, aneh.
Baca Juga: Pertimbangkan Jarak dan Sejarah, Regrouping SD di Kokap Ditolak Komite Sekolah hingga Orang Tua
Guna menghindari risiko kesehatan lebih luas, Pemdes Prawatan menarik seluruh paket minyak goreng tersebut, termasuk sisa minyak yang sudah digunakan dan dipindahkan ke wadah lain.
"Baru hari ini (Kamis (25/6/2026) kami mendapatkan laporan resmi terkait masalah kesehatan seperti batuk-batuk akibat mengonsumsi makanan yang digoreng pakai minyak tersebut," jelas Sabiq.
"Karena itu, untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih fatal, semua komoditas dari dropping awal kami tarik, baik yang sudah dibuka maupun yang belum," lanjut dia.
Pemdes Prawatan langsung berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten serta Perum Bulog selaku penyalur pada 19 Juni 2026.
Hingga saat ini, proses penggantian minyak goreng baru yang layak konsumsi telah mencapai kisaran 70 persen. Sabiq menegaskan, seluruh warga penerima manfaat dipastikan mendapatkan penggantian secara utuh sesuai dengan jumlah yang diterima di awal, tanpa memandang apakah minyak tersebut sudah dibuka atau belum.
"Meskipun ada yang belum dibuka atau belum tercium aroma aneh, kalau produsen atau distributornya sama, tetap saya minta diganti semua untuk meminimalkan risiko. Kebijakan terbaru hari ini menegaskan seluruh penerima manfaat mendapatkan komoditas pengganti sesuai jumlah awal penyerahan," tandas kades. (ren/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita