Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Protes Harga Anjlok, Peternak Mandi Telur di Bundaran Gladak Solo

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 7 Juli 2026 | 21:26 WIB
M. IHSAN/RADAR SOLO)
Aksi mandi telur peternak yang protes harga anjlok di Bundaran Gladak Solo, Selasa (7/7).
M. IHSAN/RADAR SOLO) Aksi mandi telur peternak yang protes harga anjlok di Bundaran Gladak Solo, Selasa (7/7).

 

SOLO - Puluhan butir telur satu per satu dipecahkan ke tubuh peternak dalam aksi unjuk rasa di Gladak Solo, pada Selasa (7/7). Aksi mandi telur menjadi simbol kekecewaan peternak ayam Solo Raya yang selama dua bulan terakhir terus merugi akibat harga ayam hidup dan telur anjlok, sedangkan biaya pakan membengkak.


Koordinator aksi Peternak Solo Raya Parjuni mengatakan, telur yang digunakan dalam aksi merupakan telur yang sudah lama menumpuk di kandang karena sulit terjual. Daripada dibuang, telur tersebut dipakai sebagai simbol protes agar pemerintah melihat langsung kondisi peternak.

Baca Juga: Semarak Puncak Perayaan HUT ke-61, Telkom Hadirkan Gerakan Digital bagi UMKM hingga Kompetisi AI untuk Kreator Lokal


"Telur ini sudah tidak laku. Daripada dibuang, kami pakai untuk mandi telur sebagai bentuk protes. Kami ingin pemerintah tahu kondisi peternak saat ini," ujarnya.


Aksi tersebut diikuti sekitar 100 peternak dari Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, dan Solo. Mereka membawa sekitar 80 ekor ayam hidup serta 50 kilogram telur.


Sebagian ayam dan telur matang dibagikan kepada masyarakat, sedangkan pulahan kilogram telur mentah digunakan untuk aksi mandi telur. 

Baca Juga: Lagi-Lagi Kecelakaan Kerja di PLTSa Putri Cempo, Wali Kota Solo Ultimatum Operator


Parjuni mengungkapkan, harga ayam hidup di tingkat peternak kini hanya sekitar Rp 13 ribu per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp 19.500 hingga Rp 20 ribu per kilogram.


Sementara harga telur hanya berkisar Rp 17 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah sebesar Rp 24 ribu per kilogram.

Baca Juga: Evakuasi Menegangkan Senjata Obeng dan Senter, Petugas UPT Damkar Magelang Selamatkan Balita Terjebak di Pengering Mesin Cuci


Menurutnya, jatuhnya harga harga dipicu kelebihan pasokan ayam dan telur di pasar. Pemerintah dinilai belum optimal mengendalikan produksi, termasuk pengaturan impor grand parent stock (GPS) yang berdampak pada melimpahnya populasi ayam beberapa tahun berikutnya.


Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat. Harga pakan naik sekitar 5 hingga 7 persen sehingga membuat biaya produksi peternak semakin tinggi. Namun, kenaikan biaya paakan  tidak diikuti dengan perbaikan harga jual di dari kandang.


Dokter hewan sekaligus Ketua Peternak Boyolali Bersatu Krishandrika Imanuel Rahardjo menilai, kebijakan pemerintah justru semakin membebani peternak. Ia menyoroti penurunan HAP telur dari sebelumnya Rp 26.500 menjadi Rp 24 ribu per kilogram di tengah kenaikan harga bahan baku pakan.

Baca Juga: Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Festival, 85 Ribu Orang Padati Prambanan Jazz 2026


"Harga bahan dasar pakan kita selerti jagung dan kedelai itu naik, tapi HAP sumber protein termurah dari telur malah diturunkan," ujarnya.


Menurut Kris, harga telur di tingkat peternak bahkan sempat menyentuh Rp 16.500 per kilogram. Di sisi lain, harga bungkil kedelai sebagai bahan baku pakan naik hingga Rp 2 ribu per kilogram.


Harga jagung yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 5.500 per kilogram juga saat ini sudah mencapai Rp 6.800 hingga Rp 7 ribu per kilogram.

Baca Juga: Menolak Jin dengan Memeluk Syukur di Era Gempuran Pesugihan Gunung Kawi


"Kalau harga telur naik pemerintah cepat melakukan operasi pasar. Tapi ketika harga di kandang jatuh seperti sekarang, peternak dibiarkan menanggung kerugian sendiri. Kami hanya meminta regulasi yang adil," tegasnya.


Ia memperkirakan peternak kehilangan sekitar Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu untuk setiap kilogram telur yang dijual. Kerugian tersebut terus membesar seiring tingginya biaya produksi serta turun permintaan pasar.

Baca Juga: Bayi Terlantar Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Pastikan Kondisi Sehat dan Berkoordinasi dengan Polisi


Melalui aksi tersebut, peternak mendesak pemerintah segera mengembalikan harga ayam di atas HPP dan harga telur sesuai HAP, mengendalikan impor bibit maupun bahan baku pakan, serta membentuk kementerian peternakan agar persoalan sektor ternak mendapat perhatian lebih serius.


 "Kami tidak ingin terus-terusan mandi telur. Yang kami inginkan harga yang layak dan kebijakan yang benar-benar melindungi peternak rakyat," pungkas Parjuni. (alf/fer/laz)


Sumber: Radar Solo

Editor : Sevtia Eka Nova
#TELUR MURAH #protes #peternak #solo raya #pemerintah