Duh…Air PDAM Boyolali Mirip Limbah, Awas Jangan Dikonsumsi!

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 21:30 WIB
Pelanggan PDAM di Dukuh Kenteng, Desa Penggung, Kecamatan Boyolali Kota, mengeluhkan kualitas air yang mirip limbah, Selasa (21/7). (TANGKAPAN LAYAR)
Pelanggan PDAM di Dukuh Kenteng, Desa Penggung, Kecamatan Boyolali Kota, mengeluhkan kualitas air yang mirip limbah, Selasa (21/7). (TANGKAPAN LAYAR)

SOLO - Video air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Boyolali yang keruh dan berbusa viral di media sosial. Fenomena tersebut terlihat di bak penampungan warga. Diduga, air PDAM terkontaminasi kaporit.

Peristiwa tersebut terjadi di Dukuh Kenteng, Desa Penggung, Kecamatan Boyolali Kota, Selasa (21/7/2026). Menanggapi keluhan pelanggan PDAM, Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Ampera Boyolali Iwan Marwanto menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf.

"Ternyata penyebabnya ada keteledoran dari petugas kami. Untuk itu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat," ujar Iwan, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga: TelkomGroup, Nongsa Digital Park, dan BW Digital Perkuat Gerbang Digital Indonesia melalui Sistem Kabel Laut NCC

Iwan membeberkan kronologi insiden tersebut. Permasalahan bermula pada Senin malam, ketika sumber air baku yang berasal dari Kedung Banteng dan Embung Melikan mengalami perubahan warna menjadi hijau akibat lumut.

Melihat kondisi air baku yang berubah hijau, petugas mengambil langkah menormalisasi warna air menggunakan gas klor.

"Di fasilitas pengolahan tersebut kami tidak menggunakan kaporit, melainkan gas klor. Petugas di lapangan kemudian menaikkan takaran gas klor dengan tujuan menormalisasi warna air yang hijau tersebut," jelasnya.

Baca Juga: Misi Baru Sang Jurnalis, Manajer Baru Laskar Mataram Iksan Mahar Bawa Pengalaman Dunia ke PSIM Jogja

Namun, terjadi kesalahan teknis saat pengaturan dosis. Takaran gas klor yang dialirkan justru terlalu besar (overdosis). Akibatnya terjadi reaksi dan kontaminasi antara lumut (air hijau) dengan gas klor konsentrasi tinggi.

Keduanya bercampur hingga air berubah keruh kecokelatan dan berbusa tebal menyerupai limbah. Iwan memastikan bahwa setelah beredar video tersebut, pihaknya langsung melakukan tindakan dan perbaikan teknis di Instalasi Pengolahan Air (IPA), dan selesai pada pukul 10.00 WIB.

"Per jam 10.00 WIB tadi, seluruh sistem pengolahan sebenarnya sudah kami perbaiki. Air di reservoir penampungan IPA juga sudah kembali jernih dan normal," tegasnya.

Meski demikian, air yang mirip limbah pada Senin malam telanjur memasuki jaringan pipa distribusi menuju permukiman.

Hal inilah yang menyebabkan sebagian warga masih menerima air keruh saat membuka keran di rumah.

Untuk membersihkan sisa air terkontaminasi, Perumdam Tirta Ampera telah melakukan tindakan washout (pengurasan pipa) pada jaringan distribusi utama.

Sementara untuk pipa pelayanan menuju rumah warga, pihak PDAM meminta bantuan pelanggan untuk membuang sisa air tersebut secara mandiri.

"Kami mengimbau pelanggan agar membuka keran airnya terlebih dahulu dan membuang air yang masih belum jernih sampai kondisinya benar-benar jernih kembali," pinta Iwan.

Pihak Perumdam Tirta Ampera menegaskan agar masyarakat tidak mengonsumsi air terkontaminasi yang keluar sejak Senin malam hingga Selasa pagi.

"Air yang keluar sejak kemarin malam hingga tadi pagi tidak boleh dikonsumsi, karena ada kesalahan dosis pengaturan bahan kimia," tegas Iwan.

Dia juga kembali menekankan bahwa sistem pengolahan air bersih di lokasi tersebut murni menggunakan gas klor, bukan kaporit.

Saat ini pihak Perumdam Tirta Ampera masih mendata jumlah pasti pelanggan yang terdampak dan akan mengeluarkan surat imbauan resmi kepada masyarakat. (fid/laz)

 

 

 

Editor : Sevtia Eka Nova
Sumber : Radar Solo
air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kaporit Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Ampera Boyolali boyolali PDAM