SOLO - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Gupakan, Desa Lorog, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Jumat (24/7). Mencegah kebakaran meluas, ratusan personel Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 449/Sukoharjo diterjunkan dalam upaya pemadaman.
Kehadiran prajurit TNI menjadi kekuatan tambahan, di tengah meningkatnya kejadian kebakaran lahan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sukoharjo selama musim kemarau.
Sejak pagi, personel Yonif TP 449 bersama petugas BPBD, relawan, perangkat desa, dan masyarakat bahu-membahu memadamkan api dengan peralatan manual.
Medan yang dipenuhi semak belukar dan vegetasi kering membuat api dengan cepat merambat, sehingga dibutuhkan banyak personel untuk mengisolasi titik api agar tidak meluas ke area lainnya.
Baca Juga: 50 Gram Emas Hilang Digasak Maling, Polisi Buru Pelaku Pembobolan Toko Mekar Jaya Juwangi Boyolali
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, bantuan ratusan personel Yonif TP 449 sangat membantu proses penanganan kebakaran di Tawangsari.
Menurutnya, keterlibatan TNI membuat proses pemadaman berjalan lebih cepat sehingga api berhasil dikendalikan. "Di lokasi Gupakan, Desa Lorog, Kecamatan Tawangsari, kami mendapat dukungan ratusan personel Yonif TP 449/Sukoharjo. Kehadiran mereka sangat membantu BPBD dan tim gabungan dalam mempercepat pemadaman sehingga api tidak semakin meluas," ujar Ariyanto.
Baca Juga: Tawarkan Utang Lunas Asal Mau Ngamar, DC Pinjol di Purworejo Digerebek Suami Nasabah
Selain di Tawangsari, BPBD juga harus menangani lima kejadian karhutla lain yang terjadi hampir bersamaan pada hari yang sama.
Titik kebakaran tersebut berada di Gunung Pegat, Desa Karangasem, Kecamatan Bulu; Gentan, Kecamatan Bulu; Bladon, Desa Kriwen, Kecamatan Sukoharjo; Kemiri, Desa Bulakan, Kecamatan Sukoharjo; serta Plalan, Desa Kadokan, Kecamatan Grogol.
Penanganan di lima lokasi tersebut dilakukan oleh personel BPBD bersama relawan, pemerintah desa, dan unsur terkait. Ariyanto mengatakan, tingginya intensitas kebakaran dalam satu hari menjadi indikator bahwa ancaman karhutla di Sukoharjo masih cukup tinggi.
Cuaca panas berkepanjangan, minimnya curah hujan, serta kondisi rumput dan semak yang mengering membuat api sangat mudah menyebar, terutama apabila dipicu aktivitas pembakaran terbuka.
Menurutnya, sebagian besar kebakaran lahan saat musim kemarau dipicu oleh kelalaian manusia, seperti membakar sampah, membersihkan lahan dengan cara dibakar, atau membuang puntung rokok sembarangan.
Karena itu, BPBD terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam beraktivitas di sekitar lahan kering.
Baca Juga: Cegah Stunting Sejak Dini, Tim Peneliti UGM dan Mitra Manfaatkan Pangan Lokal Tempe dan Pisang
"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar selama musim kemarau," pesannya.
BPBD memastikan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang rawan karhutla akan terus dilakukan selama musim kemarau.
Koordinasi dengan TNI, Polri, relawan, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa juga terus diperkuat agar setiap kejadian kebakaran dapat ditangani secara cepat dan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. (kwl/fer/laz)
Sumber: Radar Solo
Sumber : Radar Solo