Puja Yatra Asadha Satukan 12 Ribu Umat Buddha, Perjalanan Spiritual yang Penuh Perenungan

Naila Nihayah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 19:59 WIB
KHIDMAT: Ribuan umat Buddha mengikuti prosesi Pujayatra dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur Minggu (26/7). (NAILA NIHAYAH/RADAR PURWOREJO)
KHIDMAT: Ribuan umat Buddha mengikuti prosesi Pujayatra dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur Minggu (26/7). (NAILA NIHAYAH/RADAR PURWOREJO)

MUNGKID - Sekitar 12 ribu umat Buddha dari berbagai daerah mengikuti kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur dalam rangka peringatan Hari Raya Asadha 2026. Prosesi yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mahapuja ini tidak sekadar arak-arakan. Melainkan perjalanan spiritual penuh perenungan untuk menghormati Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Prosesi ini dimulai pukul 13.30. Barisan pertama adalah mobil hias yang membawa replika garuda. Disusul dengan kereta kencana dan bendera merah putih serta bendera sangha. Kesenian lokal turut mengiringi langkah tersebut. Ditambah dengan gunungan palawija. Lalu, disusul oleh para biksu dan umat yang membawa bunga sedap malam.

Baca Juga: Apa Itu Asalha Mahapuja? Ini Makna di Balik Kirab yang Tutup Jalur Borobudur Magelang Minggu 26 Juli 2026

Ketua Panitia Umum ITC dan Asalha Mahapuja Bhikkhu Gutadhammo Mahathera menjelaskan, kirab atau Puja Yatra merupakan praktik batin yang sarat makna. Dalam prosesi ini, umat berjalan dengan kesadaran penuh, menenangkan pikiran, serta merenungkan nilai-nilai luhur ajaran Buddha.

Dia menyebut, kirab tersebut bukan sekadar berjalan. Umat diajak mengarahkan pikiran pada kebajikan, seperti cinta kasih, belas kasih, kesucian, dan kebijaksanaan Sang Buddha. "Ini bagian dari Buddhanussati, yakni perenungan terhadap keagungan Buddha," ujarnya Minggu (26/7).

Perjalanan dari Candi Mendut hingga Borobudur dimaknai sebagai simbol pembersihan hati dan pikiran melalui praktik Dhamma. Sepanjang rute, peserta akan melantunkan paritta atau doa-doa seperti Buddhanussati, Dhammanussati, dan Sanghanussati dalam suasana meditatif.

Baca Juga: Sembilan Saksi Kaitkan Raudi Akmal dengan Korupsi Dana Hibah, Penetapan Tersangka Turut Didukung Enam Alat Bukti

Dia mengatakan, prosesi kirab ini dimeriahkan dengan empat kereta utama yang sarat simbolisme ajaran Buddha. Kereta terdepan membawa Tugu Asoka, diikuti kereta yang mengangkut kitab suci Tipitaka.

Kereta berikutnya menampilkan Dhammacakka atau roda Dhamma yang dilengkapi simbol sepasang rusa. Melambangkan khotbah pertama Buddha di Taman Rusa Isipatana. Sementara kereta terakhir membawa relik suci Buddha atau Mahadhatu yang selama ini disemayamkan di Candi Mendut.

Empat kereta ini, menggambarkan inti ajaran Buddha. "Mulai dari penyebaran Dhamma hingga penghormatan terhadap relik Sang Buddha," jelas Gutadhammo.

Baca Juga: Letkol Inf Satrio Budi Bowo Leksono Pimpin Kodim 0705/Magelang, Jaga Kedekatan dengan Rakyat di Tanah Kelahiran

Panitia Bidang Humas dan Media Massa Totok Temajano menambahkan, Hari Raya Asadha merupakan peringatan penting dalam tradisi Buddha, yang dirayakan dua bulan setelah Waisak. Hari suci ini memperingati momen pertama kali Buddha Gautama membabarkan ajaran kepada para muridnya.

Dengan kata lain, Asadha merupakan hari ketika Buddha memutar roda Dhamma untuk pertama kalinya. "Karena itu, simbol roda Dhamma selalu hadir dalam prosesi ini," jelas Totok.

Dia menegaskan, kirab yang digelar berbeda dengan perayaan Waisak. Baik dari segi konsep maupun ornamen. Prosesi ini dirancang khusus berdasarkan ajaran dalam kitab suci Tipitaka dan menjadi ciri khas tradisi Theravada, serta penghormatan kepada Tirarana. (aya/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
puja yatra hari raya asadha kirab Buddha umat buddha