SOLO - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganas di Kabupaten Sukoharjo. Sepanjang periode 28 Mei hingga 25 Juli ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo mencatat 30 kejadian karhutla yang menghanguskan puluhan hektare lahan di sejumlah kecamatan.
Tragisnya, bencana tersebut juga merenggut satu korban jiwa. Data BPBD menunjukkan, Kecamatan Bulu menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, disusul Kecamatan Tawangsari dan Nguter.
Kebakaran melanda hutan rakyat, lahan tebu, hingga kawasan perbukitan dengan luasan yang bervariasi. Beberapa kebakaran terbesar terjadi di Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, yang menghanguskan sekitar 30 hektare lahan pada 24 Juli.
Selain itu, kebakaran juga melanda Desa Kamal dengan luas sekitar 20 hektare dan Desa Kunden sekitar 15 hektare. Tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, karhutla tahun ini juga menimbulkan korban jiwa.
Seorang lansia meninggal dunia saat kebakaran lahan tebu di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, pada 24 Juli.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, meningkatnya jumlah kebakaran dipicu kondisi cuaca yang semakin kering seiring memasuki puncak musim kemarau.
Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah membesar dan cepat merambat, terutama di kawasan perbukitan dan hutan rakyat.
Baca Juga: Kuota Internet Tak Lagi Otomatis Hangus, Putusan MK Perkuat Hak Konsumen
"Selama periode akhir Mei hingga 25 Juli 2026 kami mencatat sudah terjadi 30 kejadian karhutla di Kabupaten Sukoharjo. Sebagian besar dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah maupun sisa tanaman yang kemudian merembet ke lahan di sekitarnya," ujarnya.
Menurut Ariyanto, mayoritas kebakaran sebenarnya dapat dicegah karena dipicu oleh kelalaian manusia. Pembakaran sampah, ranting, maupun sisa panen yang dilakukan saat kondisi cuaca kering menjadi penyebab paling dominan.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, relawan, dan masyarakat terus melakukan patroli serta pemadaman di wilayah yang rawan karhutla. Sosialisasi kepada masyarakat juga terus digencarkan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
Ariyanto mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka karena api dapat dengan cepat menjalar ke lahan di sekitarnya.
"Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Kami mengajak seluruh warga tidak melakukan pembakaran terbuka dan segera melapor apabila melihat titik api agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat," tegasnya.
Selain memperkuat patroli, BPBD juga terus memetakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat respons petugas apabila muncul titik api baru sekaligus menekan jumlah kejadian karhutla hingga musim kemarau berakhir. (kwl/bun/laz)
Sumber: Radar Solo
Sumber : Radar Solo