Tangis Pedagang Pasar Bayat Klaten usai Kebakaran, Modal Kulakan Puluhan Juta Lenyap dalam Sekejap

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 20:45 WIB
Kondisi Pasar Sidoharjo di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten pasca kebakaran pada Senin (27/7). (Angga Purenda/Radar Solo)
 
Kondisi Pasar Sidoharjo di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten pasca kebakaran pada Senin (27/7). (Angga Purenda/Radar Solo)  

SOLO - Isak tangis dan rasa kalut masih menyelimuti para pedagang Pasar Bayat di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Usai si jago merah melahap ratusan los pada Senin (27/7) sore.

 Saat Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo meninjau lokasi bencana pada Selasa (28/7), para pedagang hanya bisa mengurut dada meratapi barang dagangan mereka yang rata dengan tanah.

Bagi para pedagang, musibah tersebut datang di waktu yang tak terduga. Mayoritas dari mereka baru saja menyetok barang dalam jumlah besar sebelum musibah terjadi.

Darini, 45, pedagang Sembako dan snack di Pasar Sidoharjo tak mampu membendung kesedihannya. Warga yang rumahnya berjarak sekitar 5 Km dari Pasar Bayat mengaku terpukul saat mendengar kabar kebakaran yang menghancurkan tempat usahanya.

Baca Juga: Hoegeng Iman Santoso: Mengenang Sosok Polisi Paling Jujur dan Bernurani di Indonesia

Saat tiba di lokasi pada Senin (27/7/2026) sore, Darini  sudah tak bisa berkata-kata lagi melihat lapaknya hangus terbakar. Seluruh modal usahanya baru saja diputar untuk belanja dagangan pada Senin (27/7/2026) pagi.

 “Semua modal sudah masuk (kulakan) ke barang dagangan karena Senin itu barang-barang baru turun semua. Kemarin penuh sembako, roti, snack, sampai susu UHT. Sekarang habis semua," tutur Darini dengan suara bergetar, Selasa (28/7/2026).

Darini menaksir kerugian materiil yang dialaminya mencapai lebih dari Rp 50 juta. Seluruh tabungan dan modal usahanya kini berubah menjadi abu dalam hitungan jam.

Kisah dramatis juga datang dari Sidik, 60, pedagang peralatan batik, barang pecah belah dan kerajinan anyaman asal Trucuk. Saat kebakaran terjadi, Sidik yang sedang tidak berada di pasar mendapat telepon darurat dari rekannya sesama pedagang.

Baca Juga: Era Baru Big Bike Petualang Dimulai, New NX500 Perdana Meluncur di Indonesia

"Saya dikabari teman, katanya pasar kebakaran. Langsung saya bergegas ke sini. Sampai di lokasi, saudara-saudara dan teman-teman pedagang sudah bantu mengamankan sebagian barang pecah belah ke luar," cerita Sidik.

 Sidik mengungkapkan, suasana saat itu sangat mencekam. Api terus membesar dari arah barat dan selatan, mengancam lapak milik Sidik dan istrinya.

Ia bahkan ikut berjaga di lokasi bersama petugas pemadam kebakaran untuk menahan perambatan api. "Petugas Damkar sampai teriak memberi tahu ada api menyambar tas sekolah di dekat lapak saya, lalu disemprot lagi," ujarnya.

"Alhamdulillah kios saya yang di sisi utara selamat, tapi dagangan yang digelar di luar seperti peralatan batik dan kerajinan anyaman habis terbakar. Kerugian saya dengan istri kurang lebih Rp 50 juta," jelasnya.

Mimpi buruk terbesar para pedagang adalah menyambung hidup untuk esok hari. Baik Darini mupun Sidik, mewakili suara ratusan pedagang terdampak lainnya, sangat berharap adanya uluran tangan dari Pemkab Klaten.

Keinginan mereka sederhana yakni tempat darurat untuk bisa kembali berjualan serta keringanan bantuan modal usaha untuk memulai kembali dari nol.

“Keinginan kami ya kalau bisa pemerintah memberikan keringanan untuk modal lagi, alhamdulillah. Yang penting bisa segera berjualan lagi untuk menghidupi keluarga," tutur Sidik penuh harap. (ren/laz)

 

 

 

Editor : Sevtia Eka Nova
Sumber : Radar Solo
pasar bayat klaten bupati klaten hamenang wajar ismoyo desa paseban pedagang kebakaran