Saparan Mantran Wetan Jadi Tradisi yang Lebih Meriah daripada Lebaran, Per KK Bisa Keluarkan Rp 7 Juta untuk Sukseskan Acara

Naila Nihayah • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 20:42 WIB
MERIAH: Masyarakat Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang saat mengikuti tradisi saparan Rabu (29/7). Merti dusun setiap tahun ini digelar layaknya tasyakuran besar-besaran. (NAILA NIHAYAH/RADAR PURWOREJO) 
MERIAH: Masyarakat Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang saat mengikuti tradisi saparan Rabu (29/7). Merti dusun setiap tahun ini digelar layaknya tasyakuran besar-besaran. (NAILA NIHAYAH/RADAR PURWOREJO)  

MUNGKID - Di balik kemeriahan tradisi saparan atau merti dusun di Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang, terdapat biaya besar yang harus disiapkan warga. Setiap keluarga rela mengeluarkan jutaan rupiah demi mempertahankan tradisi yang telah diwariskan leluhur tersebut.

Kepala Dusun Mantran Wetan Handoko mengatakan, rata-rata satu keluarga mengeluarkan biaya Rp 4 juta hingga Rp 7 juta untuk menyukseskan saparan. Anggaran tersebut digunakan untuk menyiapkan berbagai hidangan kenduri. “Terutama ingkung ayam yang menjadi sajian utama,” ungkapnya di lokasi saparan Rabu (29/7). 

Setiap kepala keluarga (KK), minimal menyiapkan satu ingkung untuk kenduri. Namun, jumlahnya dapat bertambah hingga lima sampai sepuluh ekor ayam karena warga juga harus menjamu keluarga, kerabat, dan tamu yang datang dari berbagai daerah.

Baca Juga: OTT KPK di Pemalang Berlanjut, Istri Anom Widiyantoro Ikut Diperiksa

Sebab tradisi saparan di Mantran Wetan menjadi momentum besar bagi warga untuk berkumpul. Bahkan, kemeriahannya disebut mampu mengalahkan suasana Lebaran karena banyak keluarga yang pulang kampung dan bersilaturahmi di dusun tersebut.

Rangkaian acara saparan sendiri dimulai pukul 08.25. Tiga gunungan hasil bumi diarak dari musala menuju panggung utama di depan rumah kepala dusun. Warga berjalan kaki membawa tumpeng, ingkung, serta berbagai lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima.

Handoko menjelaskan, saparan yang digelar setiap Rabu Pahing bulan Safar bukan sekadar perayaan tahunan. Tradisi tersebut menjadi wujud syukur warga sekaligus doa agar keberkahan terus diberikan.

Baca Juga: Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Diduga Terkait Korupsi Proyek dan Jual Beli Jabatan

Pelaksanaan Saparan tetap dipertahankan pada Rabu Pahing karena diyakini sebagai hari yang telah ditentukan leluhur. Menurut Handoko, pernah ada upaya mengubah waktu pelaksanaan, namun muncul kejadian yang membuat warga kembali mengikuti ketentuan sebelumnya.

"Makanan kenduri jadi basi. Dari situ, kami pakai ilmu titen dan kembali ke hari yang sudah ditentukan," bebernya.

Selain kenduri, warga juga menjalankan ritual sesaji yang dikenal dengan istilah 'mbuangi'. Sesaji tersebut diletakkan di sejumlah titik seperti sungai dan makam sebagai bagian dari tradisi spiritual masyarakat setempat.

 

Saparan juga dimeriahkan berbagai kesenian tradisional. Salah satunya jaran kepang papat yang dianggap sakral dan wajib ditampilkan dalam setiap merti dusun.

Warga setempat Tunik mengatakan, setiap rumah biasanya menyiapkan minimal dua ingkung untuk menyambut tamu. Namun, jumlah tersebut bisa lebih banyak karena banyak keluarga dan kerabat yang datang. "Karena semua keluarga dan teman diundang ke sini. Memang lebih meriah daripada Lebaran," lontarnya.

Dusun Mantran Wetan dihuni sekitar 163 kepala keluarga dengan total hampir 480 jiwa. Setelah salat Duhur, warga dari berbagai daerah biasanya mulai berdatangan untuk bertandang ke rumah-rumah dan menikmati hidangan yang telah disiapkan. (aya/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
Mantran Wetan Tradisi Saparan tradisi Merti Dusun saparan