Dampak Kemarau di Wonosegoro Boyolali Kian Parah, Warga Desa Bolo Terpaksa Gunakan Air Sungai yang Diendapkan untuk Minum dan Memasak

Winda Atika Ira Puspita • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 21:08 WIB
Warga Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali menggunakan air Sungai Serang untuk mencuci dan memasak karena sumur-sumur mengering.  ABDUL KHOFID/RADAR SOLO
Warga Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali menggunakan air Sungai Serang untuk mencuci dan memasak karena sumur-sumur mengering.  ABDUL KHOFID/RADAR SOLO

 

 

SOLO  - Dampak musim kemarau mulai dirasakan sebagian masyarakat di Kabupaten Boyolali. Di Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, warga terpaksa menggunakan air Sungai Serang yang debitnya menyusut drastis untuk mencuci.

Usin, warga setempat, memanfaatkan air Sungai Serang untuk mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh sumur-sumur galian milik warga mulai mengering sejak beberapa pekan terakhir.

"Saluran air bersih juga tidak pasti mengalir setiap hari. Jadi untuk cuci pakai air sungai. Kalau untuk masak dan minum juga ambil dari sungai, tapi diendapkan dulu biar layak," ujarnya.

Baca Juga: Dua Polisi Gadungan Dibekuk Polres Sragen, Rampas Motor Pelajar Berkedok Razia

Usin menyebutkan, dampak kemarau mulai terasa sejak sebulan lalu. Menanggapi situasi ini, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Ari Wahyu Prabowo menyatakan, pihaknya telah memetakan 9 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

"Saat ini berdasarkan data BPBD, sudah ada lima kecamatan yang terdampak. Yaitu Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Selo, dan Tamansari," ujar Ari.

Guna penanganan selama kemarau, BPBD Boyolali telah menyiagakan sekitar 1 juta liter pasokan air bersih. Jumlah itu dipastikan dapat ditambah sesuai dengan dinamika kebutuhan warga di lapangan.

Baca Juga: Dorong Literasi Digital Pelajar, UMPWR dan Dinpusip Purworejo Gelar Pelatihan Konten Kreatif untuk Siswa SMP

Volume bantuan air bersih diprediksi masih akan terus membengkak mengingat masa kemarau saat ini baru tahap awal dan belum memasuki masa puncaknya. “Pemkab akan menyiapkan air bersih sesuai kebutuhan masyarakat," tegas Ari.

Tercatat per 30 Juli 2026, BPBD Boyolali bersama unsur terkait telah mendistribusikan sebanyak 107 tangki air atau setara dengan total 470 ribu liter bantuan air bersih ke tujuh kecamatan terdampak.

Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamudro menjadi wilayah yang menerima pasokan bantuan air terbanyak. Rinciannya: Kecamatan Wonosegoro: 148 ribu liter untuk 2.450 warga. Kecamatan Wonosamudro : 199 ribu liter untuk 1.825 warga. (fid/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Sumber : Radar Solo
Air Sungai BPBD Boyolali Kemarau