SOLO - Salah satu ikon pusat perbelanjaan tekstil dan wisata belanja batik legendaris di Kota Solo, Pusat Grosir Solo (PGS), resmi mengakhiri seluruh aktivitas operasional jual belinya. Penutupan ini menyusul putusan pailit yang memutus rantai aktivitas perdagangan di gedung tersebut.
Dampaknya, gelombang kepindahan pedagang tak terelakkan. Sebagian besar penyewa (tenant) memilih bergeser ke Beteng Trade Center (BTC), sementara sebagian lainnya mencoba mengadu nasib dengan membuka lapak baru di Pasar Klewer.
Isu yang beredar sempat mengaitkan penutupan PGS dengan lesunya angka kunjungan pembeli. Namun, pihak manajemen membantah tegas anggapan tersebut.
Baca Juga: Mabes Polri Gerebek Gudang Bio Solar di Gondang Sragen
Marketing dan Tenant Relation PGS Bachtiar Ibnu Fadzil meluruskan pangkal permasalahan yang memicu penghentian operasional gedung. Menurutnya, kegagalan dalam aspek investasi menjadi satu-satunya penyebab utama PGS dinyatakan pailit oleh Pengadilan.
"Ini bukan pailit karena enggak laku atau sepi, tapi dipailitkan. Satu-satunya faktor adalah investasi yang gagal," tegas Fadzil pada Selasa (4/8/2026).
Fadzil menambahkan antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap PGS sebenarnya masih sangat tinggi. Jika disandingkan dengan pusat perbelanjaan sejenis di sekitarnya, daya tarik PGS dinilai masih mendominasi.
Baca Juga: MBG-KDMP Pukul Sektor Konstruksi di Kulon Progo, Anggaran Bergeser, Proyek Pembangunan Daerah Turun
“Kalau disuruh milih PGS atau BTC, kebanyakan tetap milih PGS. Secara kenyamanan dan crowd (keramaian) pengunjung masih di atas," jelasnya.
Rencana penghentian operasional ini sebenarnya sudah terindikasi sejak beberapa bulan lalu. Seiring habisnya masa kontrak para tenant, manajemen memilih untuk tidak lagi memperpanjang masa sewa kios.
Secara bertahap, jumlah pedagang menyusut drastis. Dari kapasitas awal yang diisi sekitar 700 kios aktif, angka tersebut terus tergerus hingga hanya menyisakan kurang lebih 60 kios di masa-masa akhir menjelang penutupan total.
Dampak dari penutupan PGS terasa sangat berat bagi roda perekonomian para pelaku usaha dan pekerja lapangan. Dipaksa beradaptasi di lokasi baru dengan ukuran kios yang relatif lebih kecil, para pedagang terpaksa melakukan efisiensi jumlah karyawan.
Dari 60 kios terakhir yang bertahan saja, diperkirakan ada sekitar 400 pekerja yang kehilangan mata pencaharian. Bila dikalkulasikan secara menyeluruh sejak jumlah tenant mulai menyusut bertahap beberapa bulan lalu, total tenaga kerja dan karyawan toko yang terdampak kehilangan pekerjaan diperkirakan mencapai ribuan orang. (rs/laz)
Sumber: Radar Solo
Sumber : Radar Solo