Polda Jateng dan Muhammadiyah Berkolaborasi Tekan Kasus Kaki Pengkor Bayi

Heru Pratomo • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 05:50 WIB
Ilustrasi bayi
Ilustrasi bayi

 

 

SEMARANG – Upacara percepatan deteksi dini kelainan Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau kaki pengkor pada bayi di Jawa Tengah kini melibatkan aparat kepolisian di tingkat tapak. MPKU PP Muhammadiyah melalui program Mentari Clubfoot resmi membekali jajaran Bhabinkamtibmas dan Biddokkes Polda Jawa Tengah dengan kemampuan dasar mengenali tanda-tanda CTEV.

Inisiatif tersebut ditandai melalui peluncuran program kolaborasi bertajuk “Polda Jateng Peduli CTEV” di Gedung Borobudur Polda Jawa Tengah, Kamis (13/8/2026). Kedekatan personel Bhabinkamtibmas dengan warga desa dinilai menjadi modal vital untuk memetakan potensi kasus yang selama ini belum terdeteksi.

Direktur Binmas Polda Jawa Tengah, Siti Rondhijah, menyampaikan bahwa personel di lapangan memiliki posisi strategis untuk mendampingi serta menghubungkan keluarga terdampak ke fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Adipapa Kefi Eko Tune Galang Dana Gempa NTT, Lari 30 Kilometer Sehari sambil Bawa QRIS di Punggung

"Personel Bhabinkamtibmas berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kehadiran mereka penting untuk menyampaikan edukasi kesehatan dan membantu rujukan ketika ditemukan indikasi CTEV," jelas Siti Rondhijah.

Dalam pembekalan medis, perwakilan POGI Rahmad Rizal Wicaksono menekankan pentingnya deteksi CTEV sejak masa kehamilan. Sementara perwakilan IDAI Dimas Tri Anantyo membekali petugas dengan teknik komunikasi edukatif agar orang tua tidak ragu memeriksakan anaknya.

Selain itu, perwakilan PABOI Dimas Febrianto memberikan pelatihan teknik dasar skrining fisik kaki pengkor. Skrining awal ini berfungsi sebagai langkah pengenalan dini sebelum anak dirujuk untuk mendapatkan diagnosis medis resmi.

Baca Juga: Bantu Mahasiswa NTT DIY Terdampak Gempa, Pemprov Salurkan Beras 406 Kilogram Per Bulan 

Mentari Clubfoot bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga menyusun sistem rujukan terpadu yang terintegrasi dengan Posyandu dan Puskesmas. Pasien yang teridentifikasi di lapangan akan diarahkan ke jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA) maupun RS Bhayangkara di Jawa Tengah.

Melalui perluasan jejaring hingga tingkat kelurahan ini, penanganan kasus CTEV diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sehingga anak memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Editor : Heru Pratomo
kaki pengkor MPKU bhabinkamtibmas Muhammadiyah polda jateng