Perkembangan pariwisata dan menjamurnya usaha baru membawa perubahan terhadap wajah Kampung Batik Kauman di Solo. Pergeseran fungsi kawasan tersebut turut memunculkan tantangan bagi masyarakat lokal untuk mempertahankan sumber penghasilan sekaligus menjaga identitas kampung.
Fenomena itu menjadi perhatian Tim Gentriset Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui riset sosial, tim yang terdiri atas lima mahasiswa tersebut mengkaji strategi masyarakat Kauman dalam menghadapi proses gentrifikasi yang berlangsung seiring meningkatnya aktivitas wisata.
Riset tersebut dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Hasil penelitian menunjukkan warga tidak hanya bertahan dengan cara mempertahankan pola usaha yang sudah ada, tetapi juga melakukan berbagai bentuk adaptasi.
Sejumlah pelaku usaha batik mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus membangun citra produk. Sebagian lainnya melakukan inovasi desain agar batik tetap memiliki daya tarik di tengah perubahan selera konsumen.
Baca Juga: Jejak Dakwah Kiai Raden Sayid Abdullah, Tradisi Gunungan Lentheng Terus Dilestarikan Warga Tempuran
Di sisi lain, ada warga yang mengambil pilihan berbeda dengan menyewakan sebagian lahan miliknya. Sebagian lainnya mulai mengembangkan usaha kuliner sebagai alternatif sumber pendapatan.
Strategi tersebut muncul seiring terjadinya pergeseran aktivitas ekonomi di Kauman. Berdasarkan temuan Tim Gentriset, jumlah retail batik pada 2024 berkurang dari 30 unit menjadi 26 unit.
Sebaliknya, sektor kuliner justru menunjukkan pertumbuhan cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa meningkatnya jumlah wisatawan belum otomatis memberikan dampak positif terhadap perkembangan usaha batik lokal.
Paguyuban Jadi Penopang Warga
Dalam menghadapi perubahan kawasan, paguyuban dan koperasi warga memiliki peran penting. Kedua organisasi tersebut membantu masyarakat memperoleh akses permodalan sekaligus meningkatkan keterampilan melalui berbagai kegiatan pelatihan.
Upaya mempertahankan keberadaan masyarakat lokal juga dilakukan melalui kesepakatan di tingkat komunitas mengenai kepemilikan lahan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi warga agar perkembangan kawasan tidak sepenuhnya menggeser masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Kampung Batik Kauman.
Adaptasi ekonomi pun berjalan beriringan dengan upaya menjaga karakter kawasan. Masyarakat berusaha menerima perkembangan pariwisata, tetapi tetap mempertahankan identitas lokal yang menjadi daya tarik Kauman.
Tidak hanya persoalan ekonomi, keberlanjutan budaya juga menjadi perhatian. Regenerasi tradisi lokal dilakukan dengan melibatkan generasi muda, salah satunya melalui Komunitas Pengusaha Muda Kauman.
Komunitas tersebut turut berperan memperkenalkan kembali berbagai tradisi kepada anak muda, termasuk kesenian Pambiworo. Upaya itu dinilai penting agar perkembangan kawasan tidak membuat nilai-nilai budaya lokal semakin terpinggirkan.
Tim Gentriset UGM menilai keberlanjutan Kampung Batik Kauman membutuhkan dukungan kebijakan serta kolaborasi yang lebih kuat antara masyarakat dan pemerintah daerah.
Baca Juga: Usai Jadi Nama Aula PWI DIY, Abadikan Wartawan Udin sebagai Nama Jalan di Bantul
Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah kemampuan pemasaran wisata agar potensi ekonomi yang tumbuh di kawasan tersebut dapat memberikan manfaat lebih besar kepada warga lokal.
Dengan strategi adaptasi ekonomi, penguatan komunitas, dan regenerasi budaya, masyarakat Kauman berupaya menghadapi gentrifikasi tanpa kehilangan identitas. Perkembangan kawasan pun diharapkan tetap membuka peluang ekonomi baru, sekaligus menjaga Kauman sebagai kampung yang memiliki karakter dan sejarah lokal yang kuat.