RADAR PURWOREJO – Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Sungai ini mengalir melintasi sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebelum akhirnya bermuara di Laut Jawa. Mengalirkan air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas ±16.100 km², sungai ini membentang sepanjang 548–600 km dari hulu di Wonogiri hingga muara di Gresik, Jawa Timur. Nama Bengawan Solo diabadikan oleh maestro keroncong Gesang Martohartono (Solo) dalam lagu legendaris yang dikenal hingga Jepang dan Eropa.
Keberadaan Bengawan Solo memberikan banyak manfaat bagi masyarakat di sepanjang alirannya. Air sungai dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pertanian dan aktivitas sehari-hari. Kawasan di sekitar sungai juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, Bengawan Solo juga menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Pencemaran sampah, sedimentasi, serta kerusakan daerah aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air dan meningkatkan risiko banjir ketika curah hujan tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai memiliki risiko terdampak ketika terjadi luapan air.
Asal-usul nama “Bengawan Solo” memiliki sejarah yang cukup menarik. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata “Bengawan” digunakan untuk menyebut sungai yang berukuran besar. Sementara itu, kata “Solo” berasal dari istilah “Sala”, yaitu nama sebuah desa yang berada di wilayah bekas Karesidenan Surakarta. Desa Sala telah dikenal sejak masa Kerajaan Pajang dan kemudian berkembang menjadi wilayah penting yang menjadi pusat Kerajaan Surakarta.
Sejarah menunjukkan bahwa pembangunan berbagai infrastruktur di sekitar Sungai Bengawan Solo telah dilakukan sejak abad ke-18 pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan kanal dan sudetan yang bertujuan mengatur serta mengalihkan aliran sungai. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi sedimentasi yang dapat mengganggu aktivitas Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Namun, pelaksanaan proyek tersebut sempat mengalami kendala dan dihentikan karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
Upaya pengelolaan aliran Bengawan Solo kembali dilakukan pada tahun 1890. Pemerintah Belanda membangun sebuah terusan sepanjang sekitar 12 kilometer yang berfungsi mengalihkan aliran sungai dari Selat Madura menuju Laut Jawa. Pembangunan tersebut bertujuan mengurangi penumpukan material sedimen yang berpotensi menghambat jalur pelayaran menuju Surabaya, yang pada saat itu merupakan salah satu kota pelabuhan penting.
( FIBRIAN PUTRI HERAGUNG )
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber