MAGELANG - Muhammadiyah membuka peluang mempererat kerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU) usai Muktamar NU yang melahirkan kepemimpinan baru, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Kolaborasi dinilai penting karena kedua organisasi memiliki irisan kegiatan yang luas, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga pelayanan sosial kemasyarakatan.
Wakil Ketua V Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah Mohammad Adam Jerusalem menjelaskan, Muhammadiyah menyambut baik hasil Muktamar NU dan siap membangun kerja sama dengan kepengurusan baru PBNU.
Menurut dia, hubungan Muhammadiyah dan NU selama ini bukan sekadar hubungan antarlembaga keagamaan. Tetapi telah terwujud dalam berbagai aktivitas sosial di tengah masyarakat.
Baca Juga: Pembentukan BPD di 419 Desa Kabupaten Purworejo Ditarget Rampung Tahun 2026
"Sebagai sesama muslim, sesama organisasi kemasyarakatan, kita sebagai organisasi yang lebih tua, kakaknya, tentu menyambut baik dan siap bekerja sama, berkolaborasi," kata Adam di Unimma, Senin (31/8).
Bahkan, menurut Adam, dukungan Muhammadiyah terhadap pelaksanaan Muktamar NU telah ditunjukkan melalui sejumlah fasilitas dan layanan bagi peserta. Rumah sakit Muhammadiyah di Jombang, misalnya, menyiapkan layanan gratis bagi peserta Muktamar NU yang mengalami sakit.
Sementara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur turut menyediakan makanan gratis selama kegiatan Muktamar. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih erat antara dua organisasi Islam besar di Indonesia.
Baca Juga: Duh, Tiga ASN Sragen Bermasalah dengan Hukum: Tak Hanya Pencurian, tapi Juga Narkoba
"Adapun hasil yang sudah dihasilkan oleh Muktamar ini, Muhammadiyah siap untuk kolaborasi dan bekerja sama dengan PBNU," ujarnya.
Adam menyebut, peluang kerja sama Muhammadiyah dan NU terbuka cukup luas karena keduanya memiliki aktivitas yang bersinggungan dalam berbagai sektor. Terlebih, pendidikan, dakwah dan kegiatan sosial kemasyarakatan menjadi bidang yang selama ini sudah banyak mempertemukan kedua organisasi.
Dia menilai, pergantian kepemimpinan di tubuh NU tidak semestinya menjadi batas baru dalam hubungan Muhammadiyah dan NU. Sebaliknya, momentum tersebut dapat digunakan untuk memperkuat komunikasi dan mengembangkan kerja sama yang sudah berjalan.
Soal hubungan dengan Gus Kikin, Adam menambahkan, komunikasi dan kolaborasi bukan hal baru. Gus Kikin sebelumnya merupakan bagian dari kepemimpinan NU di Jawa Timur, sehingga hubungan dengan jajaran Muhammadiyah di wilayah tersebut telah berlangsung dalam berbagai kegiatan.
"Mau NU, mau Kristen, mau sosial kemasyarakatan yang lain, swasta yang lain, ya kita bahu-membahu untuk kemajuan Indonesia," bebernya. (aya)
Editor : Sevtia Eka Nova