Puluhan Murid MIM di Klaten Diduga Keracunan usai Menyantap MBG, Ini Penampakan Menunya

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 21:39 WIB

 

Penampakan menu MBG yang disantap para siswa di MIM Srebegan dan MIM Cetan, Kecamatan Ceper, Klaten.  Angga Purenda/Radar Solo
Penampakan menu MBG yang disantap para siswa di MIM Srebegan dan MIM Cetan, Kecamatan Ceper, Klaten.  Angga Purenda/Radar Solo

 

SOLO - Puluhan murid setingkal sekolah dasar di Klaten diduga mengalami keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (3/9/2026).

Insiden tersebut menimpa puluhan murid dari dua sekolah berbeda, yakni MI Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan MIM Cetan di Kecamatan Ceper.

​Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 33 siswa di MIM Srebegan dan 27 siswa di MIM Cetan dilaporkan mengalami gejala mual, pusing hingga muntah setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan.

​Kepala Puskesmas Jambukulon dr Muhammad Banu Aryandaru menjelaskan, pihaknya menerima laporan pertama kali dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait dugaan keracunan sekitar pukul 10.00. 

 Petugas Puskesmas Jambukulon langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan dan penanganan medis mendalam.

​"SPPG menelepon saya sekitar jam 10.00 mengonfirmasi ada 15 anak yang bergejala (keracunan). Kami langsung ke sekolah membawa ambulans. Sebanyak 14 anak sempat dibawa dan diobservasi di puskesmas selama kurang lebih satu jam, lalu diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik," ujar dr Banu, Kamis (3/9/2026).

​Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh di lingkungan sekolah MIM Srebegan, jumlah siswa yang bergejala bertambah hingga mencapai total 33 anak.  Dari jumlah tersebut, sebagian besar sudah diperbolehkan pulang usai diberikan penanganan.

Sementara tiga siswa lainnya masih harus menjalani observasi lebih lanjut di Puskesmas Jambukulon. ​"Gejala awal ada yang muntah dan sakit perut. Namun, ada faktor psikologis juga di mana begitu ada satu anak yang muntah, yang lainnya ikut terpengaruh," jelasnya.

"Sebanyak 30 anak sudah dipulangkan dan tersisa tiga anak yang masih diobservasi karena kondisinya belum membaik," imbuh dr Banu.

Baca Juga: Astra Honda Bidik Hasil Terbaik di ARRC Sepang 2026 

Adapun menu MBG yang disajikan hari itu terdiri dari katsu filet ikan patin, balado tahu, oseng-oseng wortel buncis, serta buah semangka. 

Tim sanitasi lingkungan (kesling) dan epidemiologi dari puskesmas telah mengambil sampel makanan yang disimpan di freezer SPPG serta sampel air untuk diperiksa di laboratorium.

​Langkah cepat juga diambil dengan menyetop pengiriman menu MBG ke sekolah-sekolah penerima manfaat lainnya di wilayah tersebut untuk mengantisipasi bertambahnya korban.

​Sementara itu, salah satu siswi kelas 5C MIM Srebegan Fiona, 12, mengaku merasakan mual dan pusing pasca menyantap setengah porsi menu MBG yang diterimanya.

Baca Juga: Bulog Sebut Bantuan Korban Gempa NTT Sudah Menjangkau Tujuh Daerah

"Lauknya katsu ikan sama tahu dan sayur. Tapi ikannya terasa agak amis. Setelah makan, rasanya pusing sama mual," tutur Fiona.

​Kasus serupa juga terjadi di MIM Cetan, Kecamatan Ceper. Kepala MIM Cetan Hariyanto membenarkan bahwa dari total 299 siswanya, sebanyak 27 anak mengeluhkan mual dan pusing usai mengonsumsi menu MBG.

​"Laporan dari dewan guru ada 27 siswa yang mengalami pusing dan mual setelah makan MBG. Sebagian besar menjalani rawat jalan dan diberi obat dari puskesmas. Namun, ada satu siswa kelas 4 yang sempat dirujuk ke rumah sakit," beber Hariyanto.

Kondisi murid yang dirujuk ke rumah sakit  sudah sadar dan dalam pemantauan medis sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium darah.

Baca Juga: Bupati Sidoarjo Buka Suara Soal Keracunan MBG di Sidoarjo yang Sebabkan 293 Santri Tumbang

​Terkait keberlanjutan program MBG di MIM Cetan, pihak sekolah berencana mengadakan musyawarah bersama dewan guru dan wali murid serta berkoordinasi dengan pihak SPPG.

​"Kami akan bermusyawarah dengan dewan guru dan wali murid. Kami juga meminta pihak SPPG untuk lebih berhati-hati lagi ke depannya dalam menyiapkan menu makanan," tegasnya.

​Hingga saat ini, pihak puskesmas bersama dinas terkait masih terus memantau perkembangan kondisi para siswa hingga 72 jam ke depan untuk mengantisipasi kemunculan gejala lanjutan seperti diare. (ren/laz)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Sumber : Radar Solo
KERACUNAN Makan Bergizi Gratis (MBG) puskesmas Muhammadiyah