Kemarau Bawa Berkah bagi Petani Tembakau Boyolali; Daun Lebih Tebal dan Kualitas Panen Meningkat

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 20:51 WIB
Petani tembakau dari Kecamatan Selo hingga Cepogo berbondong-bondong turun gunung ke Boyolali Kota mencari areal terbuka yang luas dan terik untuk menjemur tembakau, Selasa (15/9). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Petani tembakau dari Kecamatan Selo hingga Cepogo berbondong-bondong turun gunung ke Boyolali Kota mencari areal terbuka yang luas dan terik untuk menjemur tembakau, Selasa (15/9). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

 

SOLO - Seolah menjadi tradisi tahunan saat musim panen tiba, para petani tembakau asal kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu memilih memboyong hasil panen mereka ke wilayah bawah Kabupaten Boyolali.


Langkah ini diambil demi mengejar paparan cuaca terik yang stabil agar rajangan tembakau mendapat pengeringan sempurna hanya dalam sekali jemur.
Saat musim panen berlangsung, petani dari kawasan Kecamatan Selo hingga Cepogo berbondong-bondong turun gunung mencari areal terbuka yang luas dan terik.

Baca Juga: Jumenengan Hangabehi Jadi Sorotan, Polemik Suksesi Keraton Solo Belum Berakhir


Salah satunya adalah Giyanto, petani tembakau asal Selo yang rutin turun ke kawasan Boyolali Kota.


Di lahan terbuka sebelah barat perempatan Tugu Patung Jagung, Giyanto bersama rekannya tampak telaten menata ratusan widig (anyaman bambu tempat menjemur tembakau) agar terpapar sinar matahari langsung.


“Kalau di atas (Selo) cuacanya tidak tentu. Kadang pagi panas, tapi jam 12 sudah mendung. Jadi lebih enak di bawah karena cuacanya mendukung,” kata Giyanto, Selasa (15/9/2026).


Menurutnya, kepastian durasi pengeringan sangat menentukan tingkat kualitas dan harga jual tembakau di pasaran. Pasalnya, jika proses pengeringan tidak tuntas dalam sekali penjemuran, kualitas tembakau dipastikan merosot tajam.

Baca Juga: Evakuasi ODGJ Ngamuk di Sukoharjo Dramatis, Segera Dirujuk Ke RSJD Solo


“Tembakau seperti ini harus sekali proses langsung garing (kering). Kalau pengeringannya sampai dua kali, harganya bakal makin turun. Jadi kami mengincar yang sekali jemur langsung garing,” terangnya.


Proses penjemuran umumnya dimulai pukul 08.00 WIB. Mengandalkan terik matahari di dataran rendah, rajangan daun tembakau rata-rata sudah garing renyah pada pukul 13.30 WIB dengan durasi pengeringan sekitar 4 hingga 5 jam, diselingi proses pembalikan widig agar kering merata.


Dalam satu kali pengangkutan menggunakan armada pikap, Giyanto membawa rata-rata 200 hingga 300 widig. “Tiap hari turun terus, Mas. Kalau di Selo tempatnya juga tidak muat, jadi harus cari lokasi yang agak longgar,” tambahnya.


Fenomena turun gunung ini juga meluas hingga ke kawasan dataran rendah lain seperti Kecamatan Teras, Banyudono, hingga Ngemplak. Petani asal Selo lainnya, Warnoto, memilih memboyong hasil panennya ke kawasan Banyudono lantaran keterbatasan lahan di wilayah atas.


 “Kalau hanya panen sendiri 5 sampai 10 widig ya tidak masalah (di atas). Tapi sekarang membawa lebih dari 80 widig. Apalagi kalau sudah panen raya, jelas tidak ada lagi lahan jemur di atas,” jelas dia.

Baca Juga: Dua Persen Lahan untuk Makam Jadi Dilema, Pemkab Magelang Minta Pengembang Tak Lepas Tangan


Setelah dipastikan garing sempurna dalam kurun sehari, daun tembakau siap dikemas rapi sebelum disetorkan kepada para pengepul.


Kendati kondisi kemarau memicu krisis air di sejumlah area, musim kemarau tahun ini menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau.


Minimnya curah hujan membuat pertumbuhan daun tembakau menjadi lebih tebal, tidak mudah terserang jamur, serta menghasilkan mutu terbaik dibandingkan fenomena kemarau basah pada tahun-tahun sebelumnya. (fid/laz)

Editor : Sevtia Eka Nova
Sumber : Radar Solo
Petani Tembakau tradisi cuaca