Sirine Merapi Berbunyi, Warga Berhamburan Tinggalkan Rumah

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:43 WIB
Warga berlarian setelah mendengar sirine erupsi Merapi, Kamis (8/10). Arief Budiman/Radar Solo
Warga berlarian setelah mendengar sirine erupsi Merapi, Kamis (8/10). Arief Budiman/Radar Solo

 

 

SOLO -  Sirine peringatan dini tiba-tiba meraung di kawasan Ekowisata Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Kamis (8/10). Dalam simulasi tersebut, Gunung Merapi diskenariokan naik ke status Awas atau Level IV. Ratusan warga dan wisatawan pun bergerak melakukan evakuasi mandiri menuju tempat evakuasi sementara (TES).

Simulasi digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Kegiatan bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan warga dan relawan, khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III Merapi.

Baca Juga: Komplotan Pencuri Tiang WiFi Dibongkar Polisi, Beraksi dari Wonogiri hingga Gunungkidul

Sebelum sirine berbunyi, simulasi diawali dengan skenario penyelamatan seorang wisatawan yang terperosok di lereng Merapi, kawasan Ekowisata Kalitalang. Tim SAR gabungan dan relawan langsung melakukan pertolongan serta evakuasi medis darurat.

Tak lama setelah wisatawan berhasil dievakuasi, sirine Early Warning System (EWS) yang dipasang Kementerian ESDM/Badan Geologi berbunyi. Tanda tersebut dalam skenario menjadi peringatan bahwa aktivitas Merapi meningkat hingga status Awas.

Warga dan wisatawan kemudian bergerak meninggalkan kawasan menggunakan kendaraan pribadi maupun truk angkut. Mereka menuju TES di Balai Desa Balerante untuk menunggu arahan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten Syahruna mengatakan, simulasi tersebut diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas TNI, Polri, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), relawan, perangkat desa, hingga relawan kecamatan.

“Kenapa kami pusatkan di Balerante? Karena pada erupsi 2010 lalu, Balerante menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan terparah,” ujarnya.

Baca Juga: Kejari Kota Magelang Berhasil Selamatkan Rp 292 Juta dari Kasus Kredit Bank Magelang

Menurut Syahruna, latihan evakuasi mandiri penting dilakukan karena kawasan KRB III Kemalang berjarak cukup jauh dari pusat pemerintahan maupun kantor BPBD. Waktu tempuh dari pusat kota menuju kawasan tersebut bisa mencapai sekitar satu jam.

Di sisi lain, erupsi gunung api dapat terjadi dalam waktu singkat. Karena itu, warga tidak bisa hanya mengandalkan kedatangan tim penyelamat dari kota.

“Erupsi gunung api bisa terjadi dalam hitungan detik hingga menit. Jika warga di kawasan atas hanya menunggu bantuan tim dari kota tanpa melakukan evakuasi mandiri, risiko timbulnya korban jiwa akan semakin besar,” jelas Syahruna.

“Maka mau tidak mau masyarakat di kawasan atas harus kita berdayakan agar bisa melakukan penyelamatan awal,” imbuhnya.

BPBD Klaten mencatat seluruh 391 desa dan 10 kelurahan di wilayah tersebut telah berstatus Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana). Selain itu, 26 kecamatan juga telah menjadi Kecamatan Tangguh Bencana.

Baca Juga: Bea Cukai Solo Musnahkan 12,8 Juta Rokok Ilegal

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang mengikuti simulasi mengapresiasi kesiapan warga dan relawan. Menurutnya, latihan rutin membuat masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi.

 “Melalui simulasi ini, warga jadi lebih siap siaga dan relawan makin paham tugasnya. Ketika terjadi bencana, tidak ada lagi kepanikan karena semua sudah tahu siapa harus berbuat apa dan ke mana titik kumpulnya,” kata Hamenang.

Dia juga mengapresiasi keberadaan EWS berupa sirine bantuan Kementerian ESDM/Badan Geologi di Ekowisata Kalitalang yang menjadi salah satu penanda awal ancaman erupsi.

Kesiapsiagaan juga telah menjadi bagian dari kehidupan warga Balerante. Ketua RW 01 Dusun Sambungrejo, Desa Balerante, Ngatimin mengatakan, warga yang tinggal sekitar 4,5 kilometer dari puncak Merapi terbiasa menghadapi ancaman erupsi.

“Warga menyambut baik dan senang dengan adanya simulasi berkala ini. Kami yang hidup di kawasan rawan bencana memang dituntut untuk selalu siap dan memahami risikonya,” ujarnya.

Sejak erupsi 2006, warga KRB III Balerante telah beberapa kali mengikuti simulasi. Bahkan setelah erupsi 2010, setiap keluarga di wilayah tersebut mulai menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting dan kebutuhan yang harus segera dibawa ketika terjadi keadaan darurat.

“Jadi ketika ada tanda bahaya kami bisa langsung turun bergerak, melakukan evakuasi mandiri sambil membawa tas siaga bencana,” pungkasnya. (ren/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Sumber : Radar Solo
Gunung Merapi early warning system (EWS) erupsi BPBD