Hari itu menjadi hari yang mendebarkan bagi Rifky, saat menunggu pengumuman hasil ujian nasional (Unas). Dengan pakaian putih abu-abunya, tangan menggenggam. Tapi betapa terkejutnya dia. Ternyata tak lolos Unas. Seketika dia lemas. Tapi dia bertekad akan memperbaiki kegagalan itu.
“Gagal Unas waktu itu menjadi salah satu titik balik kehidupan saya. Bahwa kesuksesan tidak bisa instan dan hanya mengandalkan bakat. Tetapi perjuangan menjalani proses itu, ternyata lebih penting,” ujar Rifky (10/6).
Rifky tentu bukan siswa kurang pandi. Hanya saja sedikit abai terhadap Unas. Ia bahkan lebih mempersiapkan diri mengikuti debat internasional. Ibarat nasi telah menjadi bubur, jika hanya menyesali tak akan kembali.
Dengan penuh semangat, dia berjuang keras. Terus belajar dan doa untuk menutup kegagalan kemarin dan mengetuk keberhasilan. Kegagalannya itu baginya merupakan peringatan Tuhan, sehingga ia bisa lebih memaknai arti kesuksesan.
Dia sadar, memiliki bakat dan kecerdasan saja tidaklah cukup. Tetapi harus diasah. Dan berjuang tadi. Dengan kegigihannya, pada 2010 Rifky berhasil duduk di perguruan tinggi impiannya. Dia lolos seleksi dan masuk Fakultas Hukum (FH) UGM.
Tak hanya itu, dia juga menoreh prestasi, meraih penghargaan mahasiswa berprestasi FH UGM pada 2012. Dia dengan timnya juga menjadi juara nasional dan kemudian mewakili Indonesia pada lomba peradilan semu Phillip C Jessup International Law Moot Court Competition.
Prestasi membanggakan lainnya, dia lulus dengan IPK yang nyaris sempurna, 3,96 pada 2014 silam. Kegagalan itu terus memacu semangatnya untuk terus belajar dan menghargai proses.
Di usianya 28 tahun ini, Rifky berhasil menempuh program master hukum di Harvard University, Amerika Serikat. Dia diwisuda belum lama ini dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang lulus dari program Master of Laws Harvard Law School yang dikenal sebagai almamater mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Dia lulus dengan mengantongi dua penghargaan Dean’s Scholar Prize karena mendapatkan nilai tertinggi untuk dua mata kuliah, yaitu Mediation dan International Commercial Arbitration. Lalu juga mendapatkan predikat Honors untuk tesisnya yang merumuskan ‘theory of harm’ baru untuk hukum persaingan usaha Indonesia dalam menganalisis merger di pasar digital.
“Alhamdulillah, sangat bersyukur bisa menyelesaikan studi dalam waktu 10 bulan dan wisuda Mei lalu,” ujarnya.
Pada 2017 lalu, dia menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Magister Juris dari University of Oxford melalui beasiswa Jardine Foundation. Lagi-lagi dia juga menoreh prestasi di kampus itu.
Dia meraih penghargaan Distinction yang merupakan predikat akademik tertinggi untuk studi master hukumnya.
Pada 2020 dia menjadi dosen tetap di FH UGM. Di tahun yang sama juga dia kembali memperdalam ilmunya dengan mendaftar S2 ke Harvard. Karena ditempuh selama pandemi, maka sistem pembelajaran dilakukan secara daring hingga dia lulus magister itu.
“Akhirnya saya bisa kuliah dan lulus dari Harvard, tapi belum pernah menginjakkan kaki di sana. Gelarnya dari Harvard, tetapi kuliah dari rumah di Maguwoharjo, Sleman,” tuturnya lega dan diiringi tawa.
Ya, situasi pandemi ini menghujam dunia global. Kondisi tersebut memaksa sebagian besar kampus di dunia menutup kuliah tatap muka dan diganti secara daring, termasuk Harvard.
Ada banyak hal yang harus ia hadapi. Pria kelahiran Jogjakarta ini harus melakukan penyesuaian pada jam kuliah, lantaran adanya perbedaan waktu yang cukup banyak antara Indonesia dengan Amerika, sekitar 11-12 jam.
“Misal kalau ada jadwal kuliah pagi pukul 10, di sini pukul 9 malam dan kalau kuliah sore pukul 5, ya di sini pukul 4 pagi. Ini tantangan yang luar biasa karena harus bergelut dengan perbedaan waktu yang mengubah drastis pola kerja dan tidur,” papar bapak satu anak ini.
Tantangan lain terkait bacaan wajib di Harvard setiap minggunya sekitar 300-400 halaman. Namun semua itu ia jadikan sebagai tantangan. Untuk lebih semangat lagi meraih impiannya.
Tak selang lama dinyatakan lulus di Harvard, kini ia telah menyimpan surat penerimaan di program S3 Hukum di University of Oxford untuk meneliti lebih jauh tentang penerapan hukum persaingan usaha di era ekonomi digital dan dampak ekosistem digital terhadap persaingan. Jika tidak ada kendala, ia akan memulai perkuliahaan pada September 2021 mendatang.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, ia berharap dapat berkontribusi terhadap pembaruan hukum persaingan usaha di Indonesia. Ia berpesan kepada generasi muda untuk berani bermimpi dan tidak takut menghadapi kegagalan. “Jangan takut meraih mimpi,” tandasnya. (laz/din/er) Editor : Administrator