Jogja Bertanjak merupakan sebuah kolaborasi seni dan kreativitas yang terangkum dalam tema besar Kolaborasi Budaya untuk Bangsa. Jogja Bertanjak dilakukan selama dua hari yakni pada 12 Maret dan 14 Maret. Agenda pertama dilakukan di kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan kedua berlangsung di kawasan Titik Nol Kilometer Jogjakarta dengan konsep performing art on the street.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Raja Yoserizal Zen menyebut, agenda Jogja Bertanjak ini sudah dibicarakan kurang lebih sejak setahun lalu. “Kami berkoordinasi dengan pihak Keraton waktu itu melalui Kanjeng Ratu Hemas sekitar satu tahun lalu untuk menggagas kolaborasi ini, dan saya sangat senang akhirnya sekarang sudah bisa terealisasi,” jelasnya pada Radar Jogja, Selasa (14/3).
Jogja Bertanjak diambil dari kata tanjak yang merupakan simbol penutup kepala. Umumnya dipakai oleh orang-orang Melayu. Tanjak adalah karya budaya yang sudah menjadi warisan budaya tak benda. “Jadi kami ingin lebih mengenalkan tanjak secara luas dan mengelaborasi dengan budaya Jawa juga,” imbuhnya.
Diakui Raja Yoserizal, agenda yang dilakukan tidak berfokus pada perbedaan budaya dan kesenian. Melainkan justru berfokus di keberagaman yang ada, hal tersebut disinyalir sebagai salah satu poin menarik yang perlu menjadi perhatian lebih. Jogja dipilih, salah satunya adalah karena keragaman warisan budaya dan seni yang bagus dan mendalam. Namun bukan berarti kota lain tidak seperti itu. Jogja dinilai ideal untuk dipilih sebagai kota kolaborasi dengan Riau.
Selain itu ditunjang juga dengan banyak orang-orang Jawa atau Jogja yang berada di Riau begitu pun banyak orang-orang Riau yang berada di Jogja. Baik untuk menempuh studi atau bekerja. “Kami ingin menjaga dan mempererat hubungan itu,” tandasnya.
Raja Yoserizal juga berharap agar kolaborasi yang dilakukan bisa berkelanjutan dengan pihak Jogja yang berkunjung ke Riau serta Dinas Kebudayaan Provinsi Riau juga membuka peluang untuk berkolaborasi dengan kota-kota lain. (cr1/din).