Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tekun Beribadah meski Menginap di Emperan

Administrator • Jumat, 24 Maret 2023 | 16:39 WIB
(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
RADAR PURWOREJO - Menjalani beragam aktivitas dengan beban kerja berat, disebut buruh gendong sebagai hal biasa. Mengingat keluarga yang butuh sokongan ekonomi dari cucuran keringatnya. Sementara sebagai umat Islam, mereka wajib melaksanakan perintah agama.

Mendung menggelayut di langit Jogja kemarin sore (23/3). Saat itu, Supatilah, Paijem, Warjilah, Tumirah, dan Ginah sedang duduk bercengkrama. Mereka menyandarkan punggung pada pintu-pintu emperan bank depan pendapa timur Pasar Beringharjo, sembari menanti waktu berbuka puasa.

Sebagian buruh gendong di Pasar Beringharjo pun memang memilih tak pulang. Oleh sebab itu, mereka melaksanakan buka puasa di pasar. "Sudah biasa (buka puasa tanpa keluarga, Red). Mereka (keluarga, Red) tahu kalau di sini ya kerja," ungkap Supatilah, lantas tertawa.

Paijem turut melontarkan dirinya ingin menghemat pengeluaran. Karenanya, dia rela menginap di emperan teras bank depan pendapa timur Pasar Beringharjo. Pendapatan warga asli Kulonprogo ini tak sampai Rp 50 ribu. Sementara biaya pulang pergi naik bus, mencapai Rp 20 ribu. "Belum lagi uang makannya. Kalau tiap hari pulang, ya pendapatannya nggak nutup," sebut Paijem.

Sedangkan Ginah, justru mengaku tak betah di rumah. Pikirannya malah terasa fresh saat berada di Pasar Beringharjo. Lantaran selalu ada pekerjaan yang dapat dilakukan selama di pasar. Meski sudah tak mampu menggendong beban 50 kilogram, pendapatan tambahan diraupnya dari upah mengupas bawang. "Satu kilogram, saya dapat Rp 3.000," beber warga Sewon, Bantul, itu.

Obrolan terhenti sesaat, ketika sepasang pria dan perempuan muncul membawa kantong besar berisi nasi kotak. Saat suasana kembali tenang, perbincangan dilanjutkan dengan agenda pengajian rutin warga pasar. Warjilah mengungap, ada seorang dokter yang kerap memberi siraman rohani pada mereka. "Agendanya tiap Jumat," papar perempuan 65 tahun itu.

Paijem kembali menimpali, warga pasar guyub karena sudah seperti keluarga. Lebih dari 24 jam mereka beraktivitas di pasar. Termasuk saling menjaga. "Puasa begini ya buka bareng-bareng. Alhamdulillah ada yang membantu," cetus perempuan yang lebih dari 30 tahun menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo ini.

Paijem pun mengungkap, buruh gendong di Beringharjo bukan hanya dari DIJ saja. Perempuan yang kerap disapanya dengan sebutan "Sum" ini berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

Selain berbuka dan pengajian, buruh gendong juga melaksanakan salat di emperan teras bank itu. Jika ingin berjamaah, mereka dapat mengikuti salat di Masjid Muttaqien yang berada di selatan pasar. Bisa pula mengikuti jamaah di Toko Progo. "Kalau sahur, kami beli nasi kucing yang harganya Rp 2.500," beber Paijem.

Untuk menambah amal ibadah, sela Tumirah, para buruh gendong juga mengikuti ajakan lomba. Mulai dari hafalan Ayat Kursi, Al-Fatihah, maupun surat-surat pendek lain. "Besok Minggu (26/3) kami lombanya," ungkapnya.

Mendukung semangat buruh gendong dalam berhemat, M Berkah Gamulya memberikan sokongan dengan takjil gratis. Pria 42 tahun ini menyebut komunitasnya yang bernama Dapur Keliling EFI, berkomitmen untuk menyuguhkan buka puasa gratis bagi buruh gendong di Pasar Beringharjo sebanyak 25 paket selama 25 hari.

"Semoga upaya yang kami lakukan bisa sejalan dengan semangat para buruh gendong dalam menghemat pengeluaran. Ini agar mereka bisa membawa pulang uang lebih untuk membantu ekonomi keluarga," tandasnya. (fat/laz)
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Administrator
#Pasar Beringharjo #buruh gendong