Jogjakarta didaulat sebagai Ibu Kota Indonesia mulai 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949. Perpindahan ini dilakukan secara rahasia mengingat kondisi Jakarta yang saat itu sedang tidak aman.
Peneliti yang juga sejarawan dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Baha Uddin menjelaskan, beberapa aspek penting dipilihnya Jogjakarta sebagai ibukota negara sementara kala itu."Salah satu alasannya karena keberadaan Markas Besar Tentara (MBT) dengan para pemimpinnya Jenderal Soedirman dan Urip Sumohardjo. Serta dukungan Hamengku Buwono (HB) IX dan Paku Alam (PA) VIIl terhadap pemerintah Rl sejak Proklamasi," jelas Baha, kemarin (16/5).
Beberapa alasan lain yang juga fundamental adalah di Jogjakarta terdapat markas berbagai kesatuan laskar bersenjata salah satunya Laskar Rakyat Mataram. Serta hubungan Jogjakarta ke segala penjuru cukup mudah, baik melalui transportasi darat maupun udara.
Jogjakarta resmi mengakhiri kedaulatan sebagai ibu kota sementara Indonesia pada 1949. Salah satu pertimbangannya adalah setelah kembalinya pimpinan pemerintahan ke Indonesia yang akhirnya dikenal dengan Peristiwa Jogja Kembali. Akhirnya pada 23 Agustus hingga November 1949, Konferensi Meja Bundar secara resmi dilaksanakan di Den Haag, Belanda. Salah satu hasil KMB adalah penyerahan kedaulatan kepada RI dan pembentukan RIS. “Dampaknya ibu kota RIS kemudian dipindah kembali ke Jakarta pada 27 Desember 1949," papar Baha.
Bella Ariani, salah satu pengunjung pameran mengaku mendapatkan banyak informasi baru. Dia mengaku memahami sejarah bahwa Jogjakarta pernah jadi ibu kota sementara. Tapi di pameran ini ada penjelasan lebih lanjut soal alasan dan situasi yang terjadi pada saat itu. “Jadi pameran ini penting bagi generasi muda agar tahu sejarah," jelasnya. (cr1/din) Editor : Administrator