Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Bukti Dukungan HB IX dan PA VIIl terhadap Pemerintah Rl

Administrator • Rabu, 17 Mei 2023 | 16:36 WIB
MASKOT: Penjual hewan kurban Marus menunjukkan sapi simental bernama Gembul di kandangnya Desa Winong Kidul, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, kemarin (8/7). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)
MASKOT: Penjual hewan kurban Marus menunjukkan sapi simental bernama Gembul di kandangnya Desa Winong Kidul, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, kemarin (8/7). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)
RADAR PURWOREJO - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah(DPAD) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) menggelar Pameran Arsip Jogjakarta Sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia 1946 - 1949. Pameran ini berlangsung di Gedung Depo Arsip DPAD DIJ Jalan Janti Banguntapan, Bantul, 16 Mei hingga 26 Mei mendatang. Dalam pameran ini ditampilkan ragam arsip penting mulai dari teks dan catatan sejarah hingga ragam foto peristiwa dan infografis.

Jogjakarta didaulat sebagai Ibu Kota Indonesia mulai 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949. Perpindahan ini dilakukan secara rahasia mengingat kondisi Jakarta yang saat itu sedang tidak aman.

Peneliti yang juga sejarawan dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Baha Uddin menjelaskan, beberapa aspek penting dipilihnya Jogjakarta sebagai ibukota negara sementara kala itu."Salah satu alasannya karena keberadaan Markas Besar Tentara (MBT) dengan para pemimpinnya Jenderal Soedirman dan Urip Sumohardjo. Serta dukungan Hamengku Buwono (HB) IX dan Paku Alam (PA) VIIl terhadap pemerintah Rl sejak Proklamasi," jelas Baha, kemarin (16/5).

Beberapa alasan lain yang juga fundamental adalah di Jogjakarta terdapat markas berbagai kesatuan laskar bersenjata salah satunya Laskar Rakyat Mataram. Serta hubungan Jogjakarta ke segala penjuru cukup mudah, baik melalui transportasi darat maupun udara.

Jogjakarta resmi mengakhiri kedaulatan sebagai ibu kota sementara Indonesia pada 1949. Salah satu pertimbangannya adalah setelah kembalinya pimpinan pemerintahan ke Indonesia yang akhirnya dikenal dengan Peristiwa Jogja Kembali. Akhirnya pada 23 Agustus hingga November 1949, Konferensi Meja Bundar secara resmi dilaksanakan di Den Haag, Belanda. Salah satu hasil KMB adalah penyerahan kedaulatan kepada RI dan pembentukan RIS. “Dampaknya ibu kota RIS kemudian dipindah kembali ke Jakarta pada 27 Desember 1949," papar Baha.

Bella Ariani, salah satu pengunjung pameran mengaku mendapatkan banyak informasi baru. Dia mengaku memahami sejarah bahwa Jogjakarta pernah jadi ibu kota sementara. Tapi di pameran ini ada penjelasan lebih lanjut soal alasan dan situasi yang terjadi pada saat itu. “Jadi pameran ini penting bagi generasi muda agar tahu sejarah," jelasnya. (cr1/din) Editor : Administrator
#Universitas Gadjah Mada #Pameran Arsip Jogjakarta #DPAD DIJ