Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, sekarang hujan mulai berhenti. Memasuki musim kemarau DPP melakukan sejumlah persiapan. Salah satunya memastikan agar ketersediaan pangan aman."Pada musim kemarau kali ini terjadi penyusutan luas tanam padi, dari 27.000 hektare menjadi 7.600 hektare," kata Rismiyadi kemarin (21/5).
Menurutnya kondisi demikian tidak menjadi masalah berarti, karena petani selama ini sudah terbiasa dengan ilmu titen. Hasil produksi padi tentu saja berkurang, dan yang harus dicermati adalah optimalisasi hasil pertanian. Mulai dari menyiapkan bibit cepat panen, ketersediaan pupuk bersubsidi serta antisipasi hama."Bibit padi umur pendek seperti varietas pajajaran Cakrabuana," ujarnya.
Untuk potensi gagal panen akibat serangan hama, yang perlu diwaspadai adalah hama tikus dan serangga penggerek. Karena itu pihaknya menerjunkan (penyuluh pertanian lapangan (PPL). Berbagai obat-obatan juga telah disiapkan. Upaya menjaga hasil panen agar tetap aik, strategi lainnya adalah menjaga kebutuhan air."Bisa dengan metode pengangkatan air dari sungai supaya terjadi peningkatan ketersediaan air bagi tanaman dan ternak, meningkatkan intensitas tanam, serta peningkatan produksi dan pendapatan petani," jelasnya.
Untuk ketersediaan pangan, pihaknya memastikan mencukupi sampai dengan musim tanam berikutnya. Petani di Gunungkidul terbiasa menyimpan cadangan pangan berupa padi gabah kering secara mandiri.
Disinggung mengenai ketersediaan pupuk bersubsidi, menurutnya aman, karena ada sekitar 23.535 ton urea dan 12.102 ton NPK. Bantuan benih juga telah diusulkan dan siapkan untuk musim tanam mendatang."Meminimalisasi gagal panen, pihaknya mendorong petani agar bergabung dalam asuransi usaha tani. Program tersebut diselenggarakan untuk melindungi petani dengan memperoleh ganti rugi apabila mengalami gagal panen," ungkapnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Purwono mulai menyalurkan program droping air bersih. Seperti diketahui, wilayah Gunungkidul sudah memasuki musim kemarau. Meski demikian, di awal-awal kemarau berpeluang terjadinya hujan."BPBD berkoordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai hal tersebut," kata Purwono.
Dikatakan, pada musim kemarau, potensi bencana yang harus diwaspadai di antaranya angin kencang. Pihaknya meminta masyarakat memotong ranting pohon rawan tumbang. Terkait dengan droping air, BPBD mengalokasikan anggaran penyaluran bantuan air bersih ke masyarakat. Anggaran yang disediakan sekitar Rp 230 Juta untuk penyaluran 1.000 tangki."Bantuan air bersih tidak hanya dilakukan BPBD karena kapanewon juga memiliki anggaran tersendiri," jelasnya. (gun/din)