RADAR PURWOREJO - Mahasiswa Jurusan Tata Kelola Seni ISI Jogjakarta menggelar pameran bertajuk “The Origin of Hasoe: An Archive Exhibition of Hadi Soesanto” di Galeri R.J. Katamsi kampus setempat. Pameran yang digelar 1-5 Desember 2023 ini merupakan representasi perjalanan seni Hadi Soesanto yang kemudian menjadi seniman beken dengan ciri khas berpenampilan artistik dan nyentrik.
Selain itu, pameran dalam bentuk arsip ini juga menampilkan kehidupan eksentrik Hadi Soesanto alias Hasoe. Sejumlah arsip dipamerkan. Seperti kliping surat kabar mengenai kiprah dia. Kemudian galeri foto saat beraksi di panggung dan saat bersama Hasoe Angels. Tak ketinggalan koleksi kostum dan topi miliknya yang sangat ikonik.
Dosen Jurusan Tata Kelola Seni ISI Jogjakarta Tambak Sihno menjelaskan, pameran ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah kurasi arsip. Di mana mata kuliah tersebut memberi pelajaran kepada mahasiswa soal pengelolaan arsip seni. Output dari mata kuliah ini adalah mengelola arsip-arsip dari seniman kemudian dipamerkan.
"Dilakukan oleh mahasiswa secara berkelompok. Ada lima mahasiswa yang tergabung di kelompok yang mengerjakan pameran ini," jelasnya kemarin (1/12).
Ia menjelaskan, pemilihan Hasoe sebagai objek yang dipamerkan sebenarnya dipilih oleh mahasiswa sendiri. Yang penting seniman tersebut memenuhi kualifikasi. Yakni seniman itu sudah memiliki arsip yang cukup untuk dipamerkan. Sebab jika seniman baru, arsip yang dimiliki relatif masih sedikit. “Jadi disarankan ke seniman-seniman lawas,” ujarnya.
Tambak menambahkan, tidak ada intervensi dalam pemilihan seniman. Mahasiswa dibebaskan memilih seniman. Akhirnya Hasoe dipilih karena sudah berkiprah lama. Arsipnya pun melimpah. Sehingga mempermudah mahasiswa untuk menyelesaikan tugasnya. “Mengumpulkan arsipnya sekitar dua hingga tiga bulan,” imbuhnya.
Sementara itu, sang seniman Hadi Soesanto menanggapi positif pameran arsip mengenai dirinya. Ia bercerita, saat kali pertama dihubungi oleh mahasiswa yang akan menggelar pameran, ia tidak tahu akan seperti apa wujud pamerannya. Mahasiswa yang menghubunginya hanya menyampaikan bahwa akan mengorek lebih dalam mengenai dirinya.
“Mereka sebulan lebih bekerja, terkadang saya tinggal manggung juga. Sebenarnya pertemuan kami juga tidak intens, hanya sering lewat Whatsapp,” katanya.
Setelah melihat hasilnya, ia menilai pameran ini cukup bagus dan tertata dengan rapi. Meskipun dirinya masih kurang puas. Lantaran para pameris juga memiliki kuratornya sendiri di pameran ini. Sebab yang menentukan arsip yang ditampilkan adalah kurator. Tidak ada campur tangan Hadi sama sekali dalam pameran ini. “Tapi untuk awalan ini sudah bagus. Mungkin ke depannya lebih teliti lagi. Karena saya lupa terutama yang di timeline perjalanan hidup, saya punya kelemahan di daya ingat,” ucapnya.
Ia menyebut, terbersit rencana dalam dirinya untuk menggelar pameran sendiri. Setelah menyaksikan hasil dari pameran ini. Namun dalam pameran yang akan ia lakukan sendiri nanti, akan lebih menonjolkan aspek seni rupa. Untuk arsip dirasa sudah cukup. "Pameran ini seperti ide bagi saya. Harapannya lewat pameran ini, orang jadi lebih mengenal saya, biar mengerti saya sejak awal karir,” tandasnya. (tyo/laz)