RADAR JOGJA - Masyarakat Jogjakarta yang tergabung dalam Patembayan Nusantara melarung sosok Ade Armando ke Sungai Gajah Wong, Umbulharjo, Kota Jogja, Selasa (5/12).
Aksi bertajuk Larung Sukerta ini sebagai wujud kemarahan atas pernyataan Ade Armando tentang politik dinasti di Jogjakarta. Aksi dihiasi dengan tari spiritual sebelum akhirnya turun ke Sungai Gajah Wong.
Koordinator aksi Larung Sukerta, Pedro, menuturkan masyarakat Jogjakarta sangat marah atas pernyataan Ade Armando.
Terutama, membandingkan politik dinasti tanpa melihat sejarah Jogjakarta. Sehingga dianggap tidak paham tentang status Keistimewaan yang disandang Jogjakarta.Baca Juga: Money Politik, Fenomena yang Muncul Jelang Pemilu
“Ini adalah Larung Sukerta, bagaimana cara orang Jogja melawan. Patembayan Nusantara perkumpulan kami melawan apa yang dilakukan Ade Armando dengan melarung kedunguan hati, kedunguan pikir terhadap konstitusi maupun sejarah Jogjakarta,” jelasnya ditemui di lokasi aksi, Selasa (5/12).
Larung Sukerta diawali dengan aksi di Taman Legawong Sungai Gajah Wong. Setelahnya berjalan ke Utara menyusuri jalan perkampungan. Barisan terdepan nampak sosok yang mengenakan topeng Ade Armando.
Sosok Ade Armando digambarkan dengan topeng kardus. Selain itu juga terikat beragam sampah di tubuhnya.
Di belakangnya berbaris para penari yang mengenakan pakaian kain putih. Barisan terdepan dari penari adalah seorang pria yang membawa dupa sambil menyanyikan sejumlah tembang Jawa.
“Ini cara kami, langkah kami dengan laku budaya ini dengan menggelar Larungan Sukerta melarung kedunguan pola pikir tanda kutip Ade Armando. Ada proses tarian dan proses larungan yang berjalan. Ada personifikasi Ade Armando disitu,” katanya.
Pedro menilai pernyataan Ade Armando membuat Jogjakarta menjadi gaduh. Terlebih sejumlah elemen masyarakat merasa tidak terima atas pernyataan politik dinasti di Jogjakarta. Ade Armando, menurutnya, berucap tanpa menilik sejarah Jogjakarta.
“Kegiatan ini harapannya kedepan jadi spirit bagi warga Jogjakarta, bagi kelompok intelektual, penegak hukum, pengacara untuk melaporkan, lakukan langkah terukur tepat sesuai regulasi kepada Ade Armando. Jika perlu laporkan sesuai regulasi yang ada,” ujarnya.
Patembayan Nusantara, lanjutnya, mendorong agar Ade Armando meminta maaf secara langsung. Terutama kepada Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta Hamengku Buwono X.
Selain itu, juga kepada khalayak Jogjakarta secara luas atas pernyataan terkait politik dinasti.
“Maaf, ya, maaf tapi bukan apa-apa, harusnya beliau berani meminta maaf kepada Sri Sultan selaku Gubernur, Raja Jogjakarta dan meminta maaf kepada kawula Jogjakarta Hadiningrat secara langsung. Kalau cuma video kami bisa,” katanya. (dwi)