Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ini Lho, BPBD Ungkap Penyebab Pohon Mudah Tumbang

Iwan Nurwanto • Senin, 8 Januari 2024 | 21:25 WIB
Kalak BPBD Sleman Makwan
Kalak BPBD Sleman Makwan

RADAR PURWOREJO - Bencana hidrometeorologi berupa angin kencang mengancam hampir seluruh kapanewon di Sleman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman pun meminta agar masyarakat selalu waspada.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, beberapa waktu lalu hampir seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman merasakan dampak bencana hidrometeorologi. Berupa pohon tumbang hingga atap rumah yang berterbangan akibat diterpa angin kencang atau puting beliung.

Menurut Makwan, setelah musim kemarau panjang potensi bencana pohon tumbang dan tanah longsor akan meningkat. Sebab, setelah mengalami kemarau panjang tanah akan dalam kondisi sangat kering.

Tanah yang kering atau merekah, lanjut Makwan, dapat mudah gembur ketika diguyur air hujan. Sehingga memungkinkan pohon atau bangunan yang terikat dengan tanah tersebut mudah roboh ketika diterpa angin kencang.

“Karena itu kami meminta masyarakat jika melihat pohon berukuran besar maka kurangi tajuknya (dahannya),” ujar Makwan kemarin (7/1).

Makwan melanjutkan, selain mengurangi dahan pohon, berbagai benda yang rawan roboh seperti baliho juga perlu diperkuat dan dicek kembali lubang anginnya. Agar tidak mudah roboh ketika terjadi hujan deras yang disertai angin kencang.

Menurut dia, cuaca ekstrem berupa angin kencang biasanya akan disertai hujan deras dalam waktu singkat. Sementara untuk angin puting beliung di picu munculnya awan cumulonimbus terlebih dahulu dan tidak jarang disertai hujan es.

“Kondisi itu juga dapat memicu longsor dan banjir lahar hujan kalau itu (cuaca ekstrem, Red) terjadi di lereng Merapi,” ungkapnya.

Disisi lain, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menyebut, ada beberapa hal yang membuat potensi bencana ekstrim di DIJ meningkat. Di antaranya karena pola siklonik di Jawa bagian selatan yang mulai terbentuk. Kondisi itu memicu penumpukan massa udara. Selain itu kondisi kelembaban udara saat ini juga masuk dalam kondisi basah.

“Kondisi ini yang menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIJ lebih dominan terjadi pada siang sampai sore hari,” kata Jojo sapaanya. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
#BPBD Sleman #Pohon tumbang