RADAR PURWOREJO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengingatkan potensi penyebaran penyakit leptospirosis dan demam berdarah dengue (DBD). Apalagi di tengah musim penghujan seperti situasi sekarang. Terlebih tahun lalu, sudah ada tujuh orang yang meninggal dunia karena dua kasus tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, ada 146 kasus DBD selama 2023 dengan satu pasien meninggal dunia. Kemudian untuk leptospirosis, temuan kasusnya tidak sebanyak DBD.
Hanya saja, untuk jumlah korban meninggal dunianya jauh lebih banyak dibandingkan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk tersebut. “Leptospirosis selama 2023 ada 60 kasus, dengan pasien meninggal dunia enam orang,” beber Yuli kemarin (9/1).
Dia menyebut, pada musim penghujan, penyebaran kedua penyakit itu memang berpotensi meningkat. Lantaran nyamuk aedes aegypti akan mudah berkembang biak.
Sementara untuk penyebaran leptospirosis, lebih mudah saat musim penghujan karena bakteri leptospira penyebab penyakit tersebut disebarkan melalui kencing tikus melalui dalam genangan air. Bakteri leptospira pun dapat masuk melalui luka terbuka.
Karena itu, dia meminta masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Yakni dengan selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk didalamnya membasmi sarang nyamuk dan tikus.
“Kami minta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca,” ujar Yuli.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama mengatakan, peralihan musim kemarau ke penghujan dapat membuat bakteri dan virus mudah berkembang biak. Hal itu tentunya akan berdampak pada semakin masifnya penyebaran penyakit.
Sehingga dia pun meminta agar masyarakat juga mewaspadai potensi penyakit pernapasan. Seperti batuk, pilek, dan flu yang kemungkinan besar akan mudah menjangkiti masyarakat pada kondisi musim seperti sekarang.
"Yang paling pertama muncul itu adalah penyakit batuk pilek, kemudian nanti baru penyakit-penyakit yang bersumber vektor yang lain seperti nyamuk dan leptospirosis," sebutnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova