Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

BMKG Sebut Cuaca Panas di DIJ Bukan karena Erupsi Gunung Merapi

Iwan Nurwanto • Rabu, 17 Januari 2024 | 20:00 WIB
Wisatawan mancanegara berjalan kaki saat kondisi cuaca cerah di kawasan simpang empat Tugu Jogja, kemarin (16/1). Cuaca cerah cenderung panas terus terjadi di wilayah DIJ dalam beberapa hari terakhir.
Wisatawan mancanegara berjalan kaki saat kondisi cuaca cerah di kawasan simpang empat Tugu Jogja, kemarin (16/1). Cuaca cerah cenderung panas terus terjadi di wilayah DIJ dalam beberapa hari terakhir.

RADAR PURWOREJO - Cuaca panas terus terjadi di wilayah Jogjakarta dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, hujan yang sebelumnya sering turun pun tiba-tiba menghilang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta menegaskan, fenomena ini bukan karena erupsi merapi.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono mengatakan, kondisi wilayah di DIJ untuk saat ini memang lebih cenderung berawan. Kalaupun ada hujan, biasanya hanya skala lokal. Karena diakibatkan adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini ada di fase empat.

“Kondisi tersebut membuat potensi hujan meningkat di wilayah Indonesia bagian timur,” ujar Jojo sapaan akrab Warjono kemarin (16/1).

Selain itu, curah hujan di DIJ juga disebabkan karena pusaran siklonik di wilayah Kalimantan serta wilayah konversi (pertemuan massa udara) di utara Jawa bagian timur. Kemudian juga didukung rendahnya kelembaban udara di lapisan menengah yang berkisar antara 40-60 persen.

Adanya kondisi tersebut, menurutnya, cukup berkontribusi membuat potensi awan hujan di wilayah DIJ berkurang. Sehingga dampaknya membuat beberapa wilayah di Jogjakarta sama sekali tidak diguyur hujan. Namun dia memastikan bahwa dalam waktu dekat ini kembali berpotensi hujan.

“Jadi cuaca panas di DIJ tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi,” tegas Jojo.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan membeberkan, potensi bencana hidrometeorologi kerap muncul ketika musim pancaroba seperti sekarang. Hal tersebut akan ditandai cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan deras.

Selain itu, peralihan musim kemarau ke penghujan juga akan membuat pembentukan awan cumulonimbus. Sehingga dapat memicu bencana angin puting beliung sampai hujan es. Kondisi itu juga dapat mengakibatkan bencana tanah longsor dan banjir lahar hujan.

Karena itu, dia pun meminta, agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta mengurangi risiko. Yakni dengan memastikan kondisi atap rumah benar-benar aman lalu diperkuat. Selain itu, pohon yang kering juga dipotong dan dikurangi rantingnya agar tidak menimpa kawasan permukiman.

Sementara untuk mengurangi banjir atau genangan, Makwan meminta, agar masyarakat mulai membersihkan saluran air. Serta tidak membuang sampah pada saluran drainase.

"Untuk di jalan raya baliho-baliho juga diperiksa, apakah tiang sudah kuat dan lubang angin berfungsi dengan baik," pesannya. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#BMKG #Diy #cuaca