RADAR PURWOREJO – Keraton Jogjakarta menggelar Labuhan di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul kemarin (11/2). Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem. Labuhan Parangkusumo dilakukan setiap 30 Rajab penanggalan Jawa sebagai peringatan bertahtanya Raja Keraton Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Tradisi labuhan ini diharapkan membangkitkan kesadaran masyarakat. Agar bersama-sama membangun DIJ yang lebih baik. “Istilahnya mengambil hikmah dari sebuah perjalanan hidup raja dan bagaimana dia merengkuh semua rakyatnya. Sehingga melakukan hajatan labuhan seperti ini dan disengkuyung oleh semua masyarakat,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Nugroho Eko Setyanto yang hadir mewakili bupati Bantul dalam prosesi penyerahan ubo rampe di Kapanewon Kretek kemarin.
Dia menjelaskan, prosesi yang diikutinya merupakan pembukaan acara labuhan. Dalam rangka peringatan bertahtanya HB X sejak 7 Maret 1989 Masehi atau Selasa Wage, 29 Rajab 1921 Jawa. “Memang ini adalah acara rutin setiap tahun yang diselenggarakan Keraton Jogja. Sesuai dengan adat tradisi tahunan,” ujarnya.
Labuhan ini sendiri digelar di tiga lokasi. Yakni di Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Sementara rangkaian Hajad Tingalan Jumenengan Dalem dimulai dengan prosesi Ngebluk. Yakni prosesi pembuatan adonan apem untuk Sugengan Tingalan Jumenengan Dalem pada Kamis (8/2).
Setiap ulang tahun, diserahkan ubo rampe berupa barang yang pernah dipakai oleh HB X. Barang-barang itu diserahkan pada juru kunci Cepuri Parangkusumo untuk dilabuh sebagai simbol membuang keburukan. Pada saat yang sama, diserahkan pula sedekah berupa apem. Dengan harapan, Tuhan memberikan pengampunan bagi seluruh warga DIJ. “Tradisi juga bertujuan untuk mendoakan Ngarsa Dalem supaya senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan untuk memimpin Nyayogyakarta Hadiningrat,” kata Nugroho.
Kawendanan Tandha Yekti Keraton Jogjakarta Vinia R Prima mengatakan, setelah diserahkan ke Kapanewon Kretek, ubo rampe selanjutnya dibawa ke Cepuri Parangkusumo. Beberapa ubo rampe yang dilabuh antara lain kuku, rambut, dan pakaian yang pernah dipakai HB X. “Kemudian ada proses dikemas, supaya saat dilabuh tidak kembali lagi, dengan diberi batu,” jelasnya.
Selanjutnya akan dilakukan labuhan di Gunung Merapi dan Gunung Lawu pada Senin (12/2). Disebutkan, labuhan kali ini masuk dalam kategori labuhan patuh atau kecil. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova