RADAR PURWOREJO - Tahukah jika tiap 1 Maret kini diperingati sebagai hari penegakan kedaulatan nasional (HPKN)? Untuk memperingati peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof Dr Dra Sulistyowati Irianto mengatakan, HPKN penting dikenalkan kepada generasi bangsa di seluruh Indonesia terutama generasi mudanya. Generasi muda dengan paham kebudayaan mereka akan paham politik hukum, sejarah.
"Karena kebudayaan memberikan cara-cara berfikir, berpengetahuan untuk bisa melangsungkan kehidupannya melaui sistim politik, sistim hukum, sistim ekonomi, sistim teknologi," katanya.
Terlebih dia menyebut, keberadaan Jogjakarta memiliki dasar yang beragam. Mulai dari dasar filosofis bahwa Jogjakarta memiliki konsep yang jelas tentang tahta untuk rakyat. Dan konsep hamemayu hayuning bawana adalah ihwal space culture atau ruang budaya sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya. Ini menjadi upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin.
Baca Juga: Bukit Grenden Magelang Memukau Wisatawan dengan Pesona Alam yang Menakjubkan
"Jogjakarta itu dengan dasar filosofisnya, sejarahnya serangan 1 maret 1949 adalah salah satu tapi sebelumnya ada Jogjakarta menyatakan bersatu dengan Indonesia yang baru merdeka, agresi militer, Jogja menjadi ibu kota negara," bebernya.
Puns peristiwa sebelumnya pada 22 Desember 1928, Jogjakarta menjadi tempat kongres perempuan pertama. Lalu secara faktual Jogjakarta menjadi situs kebudayaan Indonesia yang penting, menjadi epicentrum intelektual karena banyak orang sekolah di Universitas di Jogjakarta. Kemudian Jogja menjadi miniatur kebudayaan nasional.
Baca Juga: Agak Laen, Amanda Cole Jadi Seorang CEO tapi Tetap Antarkan Sayur Sendiri Tiap Hari
"Artinya ke Indonesiaan ada di sini. Maka Jogjakarta adalah pertahanan budaya yang penting bagi Republik Indonesia. Kalau ada apa-apa dengan Indonesia maka pertahanannya ada di sini," tambahnya.
Sementara Pengajar Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Sri Margana menambahkan, HPKN merupakan peristiwa nasional yang selama ini diperingati sebagai serangan umum 1 Maret. Dan seolah-olah peringatan peristiwa ini hanya milik masyarakat Jogja saja karena lokus peristiwanya.
Baca Juga: Mengenal “Mbako Garangan”, Olahan Tembakau Premium di Wonosobo setiap Musim Bisa Peroleh Miliaran
Menurutnya, peringatan HPKN seharusnya menjadi inisiatif pemerintah pusat untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat Indonesia bahwa peristiwa itu bukan sekadar peristiwa lokal namun nasional. Sekaligus, untuk mensosialisakan hari penegakan kedaulatan negara.
"Padahal sebetulnya itu peristiwa nasional dan itu sudah diakui oleh negara," imbuhnya.
Editor : Heru Pratomo