Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

TPA Banyuroto Bakal Miliki Insinerator, Akan Dibangun Tahun Ini

Anom Bagaskoro • Senin, 4 Maret 2024 | 16:00 WIB

 

 

DIOLAH: Proses pemilahan sampah yang berlangsung di TPA Banyuroto.
DIOLAH: Proses pemilahan sampah yang berlangsung di TPA Banyuroto.
 

RADAR PURWOREJO – Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo bakal membangun insinerator di TPA Banyuroto tahun ini. Mengingat tempat pembuangan akhir ini mengolah sampah 30-35 ton per hari.

Kepala UPT Persampahan, Air Limbah dan Pertamanan (PALP) DPUPKP Kulon Progo Budi Purwanta menjelaskan, pembangunan insinerator telah menjadi kajian sejak lama. Pembangunan insinerator ini akan menelan biaya Rp 10 miliar, berasal dari dana keistimewaan. Pengadaanya akan segera dilakukan di pertengahan tahun, dan segera selesai di akhir tahun.

 

"Untuk saat ini sedang proses perencanaan, merek mesin insineratornya juga belum ditemukan," ucap Budi saat dihubungi kemarin (3/3).

 

Insinerator sendiri merupakan teknologi untuk membakar sampah yang akan mengurangi volume sampah. Di Kulon Progo, TPA Banyuroto belum dilengkapi teknologi ini. Sehingga sampah hanya dipilah dan diletakkan di landfill TPA.

 

Landfill di TPA Banyuroto digunakan sebagai tempat penampungan sampah dengan cara ditimbun. Saat ini, landfill tersebut dalam kondisi hampir penuh. Dengan jumlah sampah 55 ribu kubik. Sedangkan landfill baru sedang dalam proses pembangunan. "Kekurangan dari metode penimbunan di landfill memakan tempat banyak, sesuai dengan volume sampah," tutur Budi.

 

Budi menjelaskan, adanya insinerator mampu menjawab persoalan volume sampah yang memenuhi lahan landfill, dan persoalan bau yang ditimbulkan. Sehingga dapat memperpanjang umur lahan landfill.

 

Dalam kajian UPT, insinerator akan mampu membakar 15 ton sampah per hari. Sedangkan residu sisa pembakaran sebanyak 5-10 persen dari volume sampah sebenarnya. Residu tersebut, kemudian akan dialihkan ke lahan landfill khusus untuk menampung residu.

 

"Bila sampah 10 ton, maka residunya 500 kilogram. Tergantung jenis sampahnya juga," ucapnya.

 

Jenis sampah yang dibakar akan mempengaruhi berat residu. Hal ini juga dipengaruhi timbulan sampah di Indonesia, dengan wilayah tropisnya memiliki sampah dengan kadar air cukup tinggi.

 

Budi menjelaskan, masyarakat tak perlu khawatir selama proses pembakaran. Menurutnya hasil pembakaran seperti residu dan asap nantinya tidak akan menimbulkan masalah lain. Asap hasil pembakaran akan diproses terlebih dulu sebelum dibuang ke udara.

 

"Asap dan residu lainnya, akan diproses sesuai baku mutu Permen LHK," tutur Budi.

 

Kendati sampah dibakar, pemilihan sampah juga harus tetap dilakukan. Karena ada beberapa jenis sampah yang dilarang apabila dibakar. 

 

Sementara itu, Ngatini warga yang rumahnya tak jauh dari TPA Banyuroto mengaku cukup terganggu dengan bau TPA. Sehingga, apabila ada pembakaran sampah dapat mengurangi bau sampah, dia pun akan mendukung. "Asalkan tidak membuat masalah kesehatan, saya pasti mendukung," ucap Ngatini. (cr7/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#DPUPKP Kulonprogo #TPA Banyuroto